Mereka Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid

Makam mantan Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid di kompleks makam keluarga Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, ramai dikunjungi peziarah berseragam sekolah menjelang ujian nasional hari ini.

“Biasanya mereka datang pagi hari ditemani gurunya berdoa ke makam,” kata Teungku Azwin, pengurus pondok di wilayah selatan Kabupaten Jombang itu, Sabtu lalu. Menurut Azwin, pelajar ramai memadati makam yang disebut oleh kalangan santri dan masyarakat nahdliyin sebagai makam penuh berkah (makbarok) itu sepanjang pekan lalu. M. Adib, guru dari Madrasah Aliyah Negeri Tambak Beras, saat ditemui setelah berdoa, mengungkapkan harapannya agar anak didiknya lulus 100 persen. “Semoga diberi kemudahan dalam mengerjakan ujian”, kata dia.

Memakmurkan Masjid dan Keutamaannya

Masjid adalah rumah Allah yang mana Dia diibadahi dan disebut-sebut nama-Nya di dalamnya. Masjid merupakan benteng kokoh umat Islam, sebagai tempat tarbiyah umat dan tempat kemuliaan. Bahkan Allah sendiri yang memuliakan masjid dan orang-orang yang memuliakan serta memakmurkan masjid. Allah ta’ala berfirman (artinya),“Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu mengibadahi seseorangpun di dalamnya di samping (mengibadahi) Allah” (QS. Jin: 18)

Masjid-masjid itu dibangun agar manusia mengerjakan shalat dan berdzikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an dan taqarrub kepada-Nya, merendah di hadapan-Nya, berdoa dan memohon segala hajat dan kebutuhan kepada-Nya serta mengharapkan pahala di sisi-Nya.

Memakmurkan masjid merupakan bentuk ibadah yang agung di sisi Allah. Memakmurkan masjid bisa dengan berbagai hal, diantaranya membangun, membersihkan, membentangkan permadani, meneranginya dan masih banyak lagi bagian-bagian dari pemerliharaan masjid. Adapula memakmurkan masjid dengan i’tikaf di dalamnya, shalat dan senantiasa mendatanginya dengan berjama’ah, mengajarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat, membaca Al-Qur’an, belajar dan mengajarkannya. As-Sunnah telah menjelaskan keutamaan dan balasan yang besar dalam memakmurkan, membangun dan memelihara masjid.

Dari Utsman radhiyallahu ‘anhu telah mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda artinya, “Barangsiapa telah membangun masjid karena Allah Subhanahu wa Ta’ala (Bukair berkata, Saya menyangka beliau berkata dengan mengharap wajah Allah), maka Allah akan membangunkannya rumah di Jannah” (HR. Muslim)

Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu berkata, Sesungguhnya ada seorang wanita berkulit hitam yang berkhidmat pada masjid (dalam riwayat lain; seorang pemuda). Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melihatnya, maka beliau bertanya tentang dia, para shahabat menjawab, Ia telah meninggal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah tidak ada kemampuan bagimu untuk memberitahukan kepadaku (tentang kematiannya)?”. Ada yang menjawab, sepertinya mereka menganggap kecil masalah itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tunjukkan padaku kuburannya, maka ditunjukkanlah beliau pada kuburan tersebut”. Beliau mendo’akannya kemudian bersabda artinya, “Sesungguhnya ahli kubur ini dipenuhi kegelapan dan Allah meneranginya dengan shalatku terhadap mereka” (HR. Muslim)

Demikian juga, telah datang berbagai dalil yang menyebutkan keutamaan orang-orang yang mendatangi masjid untuk shalat, berdzikir, berdo’a, membaca Al-Qur’an, bermajelis ta’lim. Bahkan Allah memberikan keutamaan yang besar bagi orang-orang yang mengunjungi masjid, berkumpul untuk mempelajari agama Islam dengan penjagaan dari-Nya, turunnya rahmat dan ketenangan atas mereka serta doa dari para malaikat.

Mengenai keutamaan shalat berjama’ah di masjid, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya), “Shalat seseorang (di masjid dengan berjama’ah) itu dilebihkan dengan 25 derajat dari shalat yang dikerjakan di rumah dan di pasar, sesungguhnya salah seorang di antara kalian jika berwudhu kemudian menyempurnakannya lalu mendatangi masjid, tak ada keinginan yang lain kecuali untuk shalat, maka tidaklah ia melangkah dengan satu langkah pun kecuali Allah mengangkatnya satu derajat, dan terhapus darinya satu kesalahan hingga ia masuk masjid …” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Dan berbagai keutamaan lainnya yang sangat banyak yang akan Allah berikan bagi orang-orang yang memakmurkan masjid-Nya dengan berbagai ibadah kepada Allah.

Mereka Menjadikan Kuburan Orang-Orang Shaleh Sebagai Masjid

Lalu, apa jadinya jika ada tempat lain yang “disamakan” fungsinya sebagai masjid, yakni sebagai tempat ibadah layaknya masjid? Ya, itulah tempat yang dinamakan dengan kuburan, lebih tepatnya kuburan atau makam orang-orang yang dianggap shaleh atau kuburan keramat.

Jika kita mengunjungi makam-makam orang shaleh yang dikeramatkan –khususnya pada malam-malam tertentu, semisal malam likuran (bahasa jawa, yakni malam-malam di atas malam dua puluh pada bulan Ramadhan)-, maka kita akan menjumpai betapa banyaknya manusia yang mendatangi makam-makam itu dan melakukan berbagai macam ibadah di dalamnya. Berbagai macam ibadah akan bisa kita temukan disana yang dikerjakan oleh manusia. Ibadah-ibadah yang selayaknya dilakukan di masjid-masjid, lalu mereka alihkan ke makam-makam orang shaleh itu.

Mereka ada yang semalam suntuk beri’tikaf di kuburan-kuburan itu (khususnya pada malam likuran) pada bulan Ramadhan. Bahkan kuburan akan menjadi penuh sesak oleh manusia yang berkunjung ke makam-makam itu pada malam likuran tersebut. Ada yang membaca Al-Qur’an, berdo’a di hadapan kuburan, istighosah berjama’ah, berdzikir, dan bermacam ibadah lainnya yang dilakukan di kuburan-kuburan itu.

Pada umumnya, kuburan-kuburan yang dikeramatkan itu dibangun sedemikian indahnya. Hiasan kain kelambu yang begitu cantik sehingga mengalahkan kamar pengantin. Tidak tanggung-tanggung, pembangunan kuburan-kuburan itu menelan dana yang sangat besar! Mulai dari pembangunannya, pemeliharaannya, pemugarannya dan berbagai keperluan perawatan yang menghabiskan biaya besar juga. Bahkan dijadikan sebagai cagar budaya dan wisata religi! Allahulmusta’an. Itulah fenomena yang bisa anda dapatkan di makam-makam Wali Songo dan berbagai makam yang dikeramatkan lainnya.

Riset Membuktikan, Mereka Melakukan Kesyirikan!

Mahasiswa Sunan Ampel pernah mengadakan riset untuk menanyakan kepada orang-orang peziarah perihal niat dan tujuan mereka kesana (makam Wali Songo). Dalam riset itu menyebutkan bahwa tujuan mereka kesana bermacam-macam. Ada yang mencari berkah sunan, dan meminta agar sawahnya kelak memiliki hasil yang banyak. Di antara mereka juga ada yang berniat bertawasul dengan Sunan Giri. Ada di antara mereka yang mengaku bahwa diri mereka penuh dosa, makanya mereka ingin mendekat kepada orang suci agar doa mereka dikabulkan.

Dari hasil akhir riset para mahasiswa itu dapat disimpulkan bahwa 90% mereka (para peziarah makam wali) itu melakukan kesyirikan!

Seburuk-buruk Makhluk Di Sisi Allah Adalah …

Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan para Nabi dan orang-orang shaleh di antara mereka sebagai masjid, yakni sebagai tempat ibadah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya), “Allah melaknat orang-orang Yahudi dan nasrani. Mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah)” (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa)

Dari Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa, dia bercerita, ketika Nabi jatuh sakit, maka beberapa orang istri beliau sempat membicarakan tentang sebuah gereja yang terdapat di Habasyah yang diberi nama Maria. Kemudian mereka menceritakan tentang keindahan gereja dan gambar-gambar yang terdapat di dalamnya. Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa melanjutkan cerita, Kemudian nabi mengangkat kepalanya dan bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang jika ada orang-orang shaleh di antara mereka wafat, mereka akan membangunkan masjid di makamnya itu, lalu mereka memberi berbagai macam gambar di tempat tersebut. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah (pada hari kiamat kelak)” (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa`I, Ibnu Abi Syaibah dan lainnya)

Walaupun dalam hadits di atas ditujukan untuk kaum Ahli Kitab, namun tidak menutup kemungkinan hukum tersebut akan menimpa kaum muslimin jika kaum muslimin menjadikan kuburan orang-orang shaleh sebagai masjid-masjid yang di dalamnya ditegakkan berbagai macam ibadah.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seburuk-buruk manusia adalah orang yang mendapati terjadinya hari kiamat dalam keadaan hidup, dan juga orang yang menjadikan kuburan/makam sebagai masjid (tempat ibadah)” (HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah dan lainnya)

Jadi, tidaklah salah jika kita mengatakan adanya perangai-perangai kaum muslimin sebagaimana perangai-perangai Yahudi dan Nasrani (ahli kitab). Diantara kaum muslimin yang memiliki perangai ahli kitab adalah mereka yang menjadikan kuburan/makam orang-orang shaleh sebagai masjid. Atau dengan kata lain, mereka yang menjadikan makam orang shaleh sebagai makam/kuburan keramat yang di dalamnya manusia melakukan berbagai ibadah semisal shalat, berdzikir, berdoa, membaca Al-Qur’an, beri’tikaf dan ibadah lainnya.

Jika anda tidak ingin disebut sebagai seburuk-buruk makhluk di sisi Allah, maka jangan jadikan kuburan sebagai masjid-masjid yang di dalamnya dijadikan sebagai tempat ibadah. Allahua’lam bish-showab.

Ditulis oleh Aqil Azizi.

http://almadinahpekanbaru.wordpress.com/2011/05/02/mereka-menjadikan-kuburan-sebagai-masjid/

2 thoughts on “Mereka Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid

  1. Sebelumnya saya sudah membahas persoalan hadits tersebut dan juga maknanya, namun karena kawan-kawan salafi wahhabi belum juga bisa memaknai hadits tersbut dengan makna yang shahih dan benar, maka Kali ini saya akan membahas lebih lanjut makna Hadits tersebut ditinjau dengan beberapa disiplin ilmu, dengan keterbatasn ilmu al-Faqir.

    Hadits Pertama :

    Nabi Saw bersabda :

    لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور انبيائهم مساجد

    “ Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashoro yang menjadikan kuburan para nabi sebagai tempat sujudnya “

    Hadits Kedua :

    لاتجلسوا على القبور ولا تصلوا إليها

    “ Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan janganlah sholat menghadapnya “.

    PENJELASAN HADITS PERTAMA :

    Segi Ilmu Nahwu :

    لعن : فعل ماض مبني على الفحة

    الله : فاعل مرفوع بالضمة

    اليهود : مفعول لعن منصوب بالفتحة

    و : حرف عطف

    النصارى : معطوف باليهود منصوب بالفتحة

    اثخذوا : فعل ماض والواو للجماعة ضمير متصل في محل رفع فاعل

    والاتخاذ من افعال التحويل تنصب مفعولين.

    قبور : مفعول اول وهو مضاف

    انبياء : مضاف اليه مجرور بالكسرة

    هم : ضمير متصل مبني على السكون

    مساجد : مفعول ثان منصوب بالفتحة لانه من الاسماء غير منصرفة

    وجملة الفعل والفاعل وما بعدها في محل نصب نعت لليهود والنصارى

    Keterangan :

    • Lafadz ittakhadza termasuk fi’il tahwil yaitu predikat yang menunjukkan arti merubah dan memiliki dua maf’ul karena ia juga termasuk akhowat dzonna (saudaranya dzonna) yang menashobkan dua maf’ulnya.

    • Maf’ul pertamanya adalah kalimat QUBURA ANBIYAIHIM (Kuburan para nabi mereka). Dan maf’ul keduanya adalah MASAJID (masjid-masjid).

    • Dan jumlah susunan kalimat ITTAKHODZA dan setelahnya menjadi NA’AT (Sifat) bagi Yahudi dan Nashoro.

    Maka arti dari sisi nahwunyaadalah :

    “ Allah melaknat kepada Yahudi dan Nashoro yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid-masjid “.

    Segi Ilmu Balaghah dan Bayan :

    لعن الله • : Adalah jumlah du’aiyyah (susunan doa) yang mengandung makna tholabiyyah (permohonan).

    اتخذوا • : Adalah jumlah musta’nifah ‘ala sabilil bayan limuujibil la’an (Susunan permulaan kalimat untuk menjelaskan sebab pelaknatan)

    قبور انبيائهم مساجد • : Kalimat ini merupakan Majaz tasybih.

    – Majaz : Penggunaan suatu kata dengan makna yang lain daripada maknanya yang lazim. Kebalikan dari majaz ialah haqiqah.

    – Tasybih : Uslub yang menunjukkan perserikatan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam sifatnya.

    Secara umum tasybih ini tujuannya untuk menjadikan suatu sifat lebih mudah diindera.

    Maka arti dari sisi ilmu balaghah dan bayan ini adalah :

    “ Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashoro, sebab mereka telah menjadikan kuburan para nabi seperti tempat sujud “.

    Syarah alfadz atau mufradat :

    Sekarang kita akan kupas satu persatu dari kalimat hadits tersebut dengan melihat dan menyesuaikan hadits-hadits shahih lainnya, merujuk pada asbab wurudnya dan ilmu sejarahnya, sehingga kita akan dapatkan makna yang shohih, kuat dan sesuai dengan hadits-hadits lainnya yang saling berkaitan.

    Setelah itu kita akan timbang dengan komentar-komentar atau pendapat-pendapat para ulama besar yang sangat berkompeten dan menguasai segala disiplin ilmu baik dhahir maupun bathin.

    PEMBAHASAN :

    Mufradat :

    • Lafadz qubur jama’ dari mufrad qobrun yang berarti madfanul insane al-mayyit (tempat pendaman mayat).

    • Sedangkan lafadz maqbarah adalah isim makan lilqobri yaitu maudhi’u dafnil mauta (tempat pendaman orang-orang yang mati atau istilah lainnya pekuburan / pemakaman). Yang berarti juga tempat dimana terdapat tiga atau lebih dari orang yang dipendam.

    • Dan lafadz Masajid adalah jama’ dari kata Masjid berasal dari kata sajada yasjudu (bersujud). Masjid adalah isim makan ‘ala wazni maf’ilun. Maka masjidun artinya makanun lis sujud (tempat untuk sujud).

    Maka dari ini makna hadits yang shahih adalah :

    لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور انبيائهم مساجد

    Adalah : “ Semoga Allah melaknat orang-orang yahudi dan Nashoro, sebab mereka telah menjadikan tempat pendaman para nabi mereka sebagai tempat untuk sujud “.

    Yakni, orang-orang yahudi menjadikan kuburan nabi mereka sebagai tempat sujud dan ibadah mereka. Mereka buat patung seorang nabi atau orang sholeh di atas kuburan nabi atau orang sholeh tersebut. Kemudian patung itu mereka sembah dan mereka jadikan arah sembahyang mereka.

    Inilah makna yang shahih dan sebenarnya, kenapa bias demikian ? simak penjabarannya berikut ini..

    Pertama :

    Fi’il ittakhodza (اتخذ) adalah dari fi’il khumasi muta’addi dan salah satu fi’il tahwil atau shoirurah yang memiliki makna merubah dan berhukum menashobkan dua maf’ul (objek)-nya. Maf’ul yang pertama menjadi dzat maf’ul yang kedua seluruhnya.

    Contoh : اتخذت الحقل مرعى “ Aku jadikan ladang itu sebagai tempat penggembalaan “.

    Artinya ; “ Aku merubah semua ladang itu menjadi tempat penggembalaan “.

    Kalau untuk sebagian maka kalimatnya sebagai berikut :

    اتخذت من الحقل مرعى

    “ Aku rubah sebagian ladang itu sebagai tempat penggembalaan “.

    Kalau untuk di artikan membangun, maka tidak boleh kita katakan :

    اتخذت الارض بيتا

    “ Aku bangun tanah itu sebagai rumah “,

    kalimat ini tidak sah dan rusak karena tidak sesuai dengan fungsi fi’il ittakhodza sebagai fi’iI tahwil bukan bina’.

    Maka seharusnya yang lebih tepat kalimatnya adalah sebagai berikut :

    بنيت على الارض بيتا

    “ Aku membangun rumah di atas tanah itu “.

    Maka hadits di atas tidak tepat jika diartikan membangun tempat sujud di kuburan, makna shahihnya adalah merubah kuburan sebagai tempat sujud. Karena ini sesuai fungsi dan kaedah fi’il tersebut.

    Dan hadits membangun masjid / tempat sujud dikuburan, ada matan dan riwayatnya tersendiri tidak ada kaitannya dengan hadits di atas. Nanti saya akan jelaskan.

    Kedua :

    Dari sisi sejarah dan sebab wurudnya hadits di atas dapat diketahui makna hadits di atas yang sebenarnya :

    فقد قالت السيدة أم سلمة رضى الله تعالى عنها لرسول الله صلى الله عليه وسلم حين كانت فى بلاد الحبشة تقصد الهجرة إنها رأت أناسا يضعون صور صلحائهم وأنبيائهم ثم يصلون لها، عند إذن قال الرسول صلى الله عليه وسلم (لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور انبيائهم مساجد.

    Ummu Salamah Ra bercerita kepada Rasulullah Saw ketika dulu ia berada di Habasyah saat hendak Hijrah, bahwa dia pernah melihat beberapa orang yang meletakkan patung-patung orang sholih dan para Nabi mereka, kemudian mereka sholat kepada patung-patung tersebut. Maka bersabdalah Rasulullah Saw “ Allah melaknat orang Yahudi dan Nashoro yang telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid “.

    Dan sejarah ini telah dijelaskan pula oleh Allah Saw dalam al-Quran berikut :

    اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا إِلَهاً وَاحِداً لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

    “ Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi) dan rahib-rahibnya (Nashoro) sebagai tuhan selain Allah. Dan orang-orang Nashoro berkata “ dan juga Al-Masih putra maryam “. Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Mah Esa. Tidakada Tuhan selain Dia. Maha Dia dari apa yang mereka persekutukan “. (At-Taubah : 31)

    Jelas dari sisi ini, bahwa sebab Rasul Saw melaknat orang yahudi dan nashoro adalah karena mereka menyembah patung para nabi dan patung orang sholeh (dalam istilah mereka disebut rahib) di antara mereka. Bukan membangun masjid di atas kuburan apalagi sholat di dalam masjid yang ada kuburannya.

    Ketiga :

    Makna ini sesuai dengan hadits shohih Nabi Saw lainnya berikut diriwayatkan dari Atho’’bin Yasar bahwa Nabi Saw bersabda :

    اللهم لا تجعل قبري وثناً يعبد، اشتد غضب الله على قوم، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

    “ Ya Allah, jangan jadikan kuburanku sesembahan yang disembah, Allah sangat murka pada kaum yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat sujud “.

    Illat / alasan Allah murka kepada kaum yang menjadikan kuburan para nabi sebagai tempat sujud adalah karena mereka memang menyembah kuburan tersebut, sujud pada kuburan tersebut dengan anggota tubuh dan juga hati mereka. Oleh karenanya Nabi Saw mengucapkan kata-kata “ watsanan yu’bad “ (sesembahan yang disembah). Bahkan jika dikaitkan hadits ummu Salamah Nampak jelas mereka menyembah patung nabinya atau patung orang sholeh mereka.

    Keempat :

    Kalimat masajid dalam hadits di atas maknanya adalah tempat sujud bukan berupa bangunan masjid. Karena orang-orang yahudi beribadah bukan di dalam masjid, demikian juga orang-orang Nashoro beribadah bukan di dalam masjid, melainkan mereka beribadah di ma’bad dan kanisah (kuil dan gereja).

    Maka hadits di atas sangat tidak tepat diarahkan pada bangunan masjid kaum muslimin. Maka makna hadits tersebut yang shahih adalah “ Semoga Allah melaknat orang Yahudi dan Nashoro tersebut, sebab menjadikan kuburan para nabi sebagai tempat sujud “.

    Makna tempat sujud ini juga sesuai dengan hadits Nabi Saw sebagai berikut :

    “الأرض كلها مسجد إلا المقبرة والحمام

    “ Bumi ini seluruhnya adalah layak untuk dijadikan tempat sujud (tempat untuk sholat), kecuali pekuburan dan tempat pemandian “.

    Jika kita artikan masjid dalam hadits ini adalah bangunan masjid, maka logikanya kita boleh melakukan I’tikaf dan sholat tahiyyatul masjid di kebun, lapangan atau di tanah pasar. Sungguh hal ini bertentangan dengan hokum fiqihnya.

    Dan juga semakin jelas dan nyata bahwa makna masjid di situ adalah bukan bangunan masjid melainkan tempat yang layak untuk sujud, dengan penyebutan mustatsna (yang dikecualikan) setelah menyebutkan mutstsana minhunya dengan huruf illanya yaitu kalimat al-Maqbarah (pekuburan) dan al-Hammam (tempat pemandian).

    Karena tidak mungkin pekuburan dan kamar mandi disebut juga bangunan masjid. Maka arti hadits tersebut bermakna :

    “ Bumi ini seluruhnya layak dijadikan tempat sujud, kecuali tempat pekuburan dan tempat pemandian “.

    Jika kita artikan masjid disitu dengan bangunan masjid “ Bumi ini seleuruhnya adalah masjid kecuali pekuburan dan tempat pemandian “, maka pengertian seperti ini jelas salah dan batal, karena sama juga menyamakan pekuburan dan tempat pemandian itu dengan masjid yang boleh I’tikaf dan sholat tahiyyatul masjid lalu diisttisnakan dengan illat yang tidak diketahui.

    Kelima :

    Melihat sejarah pemakaman Nabi Saw. Rasulullah Saw dimakamkan di tempat meninggalnya, yakni di tempat yang dahulunya adalah kamar Ummul Mukminin Aisyah ra., isteri Nabi saw. Kemudian berturut-turut dimakamkan pula dua shahabat terdekatnya di tempat yang sama, yakni Abu Bakar Al-Shiddiq dan Umar bin Khatthab.

    Di masa Nabi Saw Awalnya, masjid ini berukuran sekitar 50 m × 50 m, dengan tinggi atap sekitar 3,5 m. Karena umat muslim yang berkunjung semakin pesat dan tempatnya semakin sempit, maka oleh Utsman bin Affan direnovasi dan diperluas lagi walaupun yang pertama merovasinya adalah Umar bin Khoththob. Kemudian diperluas lagi di zaman modern oleh raja Abdul Aziz sehingga bangunannya menjadi 6.024 m² di tahun 1372 H. Selanjutnya diperluas lagi oleh raja Raja Fahd di tahun 1414 H, sehingga luas bangunan masjidnya hampir mencapai 100.000 m², ditambah dengan lantai atas yang mencapai luas 67.000 m² dan pelataran masjid yang dapat digunakan untuk salat seluas 135.000 m². Sehingga mau tidak mau, makam Nabi Saw berada dalam masjd tersebut. Bahkan setelah itu turut dimakamkan di dalamnya yaitu Abu Bakar Ash-Shdiddiq dan Umar bin Khoththob.

    Di zaman Utsman bin Affan saat perluasan masjid yang disaksikan lebih dari 15 sahabat Nabi Saw, tidak ada satu pun dari mereka yang mengingkarinya atau mengatakannya haram. Bahkan sholat di masjid Nabawi yang memang terdapat makam Nabi saw di dalamnya, memiliki keutamaan tersendiri dari masjid lainnya.

    Nabi Saw bersabda :

    صلاة في مسجدي هذا أفضل من ألف صلاة فيما سواه إلا المسجد الحرام

    “ Sholat di masjidku ini lebih utama dari sholat seribu kali diselainnya kecuali di masjdil haram “

    Beliau juga bersabda :

    من زار قبري وجبت له شفاعتي

    “ Barangsiapa yang ziarah ke makamku, maka ia berhak mendapat syafa’atku “.

    Bahkan siti Aisyah pun sering sholat di kamar tersebut sebagaimana telah dikisahkan dalam shahih Bukhari.

    Seandainya hal itu suatu kemungkaran dan keharaman karena beralasan dengan alasan yang tidak nyambung yaitu dengan hadits menjadikan kubur para nabi sebgai tempat sujud di atas, seperti yang telah difatwakan oleh guru besar wahhabi salafi yaitu syaikh Muqbil yang merupakan guru Bin Bazz, Utsaimin dan Fauzan, maka sudah pasti para sahabat saat itu melarangnya dan mengatakan itu haram.

    Umat muslim sejak zaman sahabat hingga sekarang ini terus berziarah ke masjid Nabawi tersebut, melakukan sholat di dalamnya dan ziarah kubur Nabi Saw, dan tak ada satu pun ulama di seluruh penjuru dunia mulai dari kalangan sahabat, tabi’in dan ulama madzhab yang melarang mereka sholat di dalam masjid tersebut yang terdapat makam Nabi Saw dan makam dua sahabat Nabi yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khoththob.

    Ke enam :

    Allah Swt berfirman :

    وَكَذَلِكَ أعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أنَّ وَعْدَ اللّهِ حَقٌّ وَأنَّ السّاعَةَ لاَ رَيبَ فيها إذْ يَتنازَعُونَ بَيْنَهُم أمْرَهُم فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِم بُنْيَاناً رَبُّهُم أعْلَمُ بِهِم قَالَ الّذينَ غَلَبُوا عَلَى أمْرِهِم لَنَتَّخِذَنّ عَلَيْهِم مَسْجداً

    “ Dan demikianlah Kami perlihatkan (manusia) dengan mereka agar mereka tahu bahwa janji Allah benar dan bahwa hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika mereka berselisih tentang urusan mereka, maka mereka berkata “ Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka “. Orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata “ Kami pasti akan mendirikan masjid di atas kuburan mereka “. (Al-Kahfi : 21)

    Ayat ini jelas menceritakan dua kaum yang sedang berselisih mengenai makam ashabul kahfi. Kaum pertama berpendapat agar menjadikan sebuah rumah di atas kuburan mereka. Sedangkan kaum kedua berpendapat agar menjadikan masjid di atas kuburan mereka.

    Kedua kaum tersebut bermaksud menghormati sejarah dan jejak mereka menurut manhajnya masing-masing. Para ulama Ahli Tafsir mengatakan bahwa kaum yang pertama adalah orang-orang msuyrik dan kaum yang kedua adalah orang-orang muslim yang mengesakan Allah Swt. Sebagaimana dikatakan juga oleh imam asy-Syaukani berikut :

    يقول الإمام الشوكانى «ذِكر اتخاذ المسجد يُشعر بأنّ هؤلاء الذين غلبوا على أمرهم هم المسلمون، وقيل: هم أهل السلطان والملوك من القوم المذكورين، فإنهم الذين يغلبون على أمر من عداهم، والأوّل أولى». انتهى. ومعنى كلامه أن الأولى أن من قال ابنوا عليهم مسجدا هم المسلمون.

    Imam Syaukani berkata “ Penyebutan menjadikan masjid dalam ayat tsb menunjukkan bahwa mereka yang menguasai urusan adalah orang-orang muslim. Ada juga yang berpendapat bahwa mereka adalah para penguasa dan raja dari kaum muslimin..”. Makna ucapan beliau adalah pendapat yang lebih utama adalah bahwa yang berkata bangunlah masjid di atas kuburan mereka adalah kaum muslimin “.

    وقال الإمام الرازى فى تفسير ﴿لنتّخذنّ عليه مسجداً﴾ «نعبد الله فيه، ونستبقى آثار أصحاب الكهف بسبب ذلك المسجد». تفسير الرازى

    Imam Ar-Razi di dalam tafisrnya berkata “ Kami akan menjadikan masjid di atasnya “ maknanya adalah “ Kami akan beribadah kepada Allah di dalam masjid tersebut dan kami akan memelihara bekas-bekas para pemuda ashabul kahfi dengan sebab masjid tersebut “.

    Ketujuh :

    عن عائشة أنه: قال النبي صلى الله عليه وآله وسلم في مرضه الذي مات فيه: لعن الله اليهود والنصارى، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد. قالت: ولولا ذلك لأبرز قبره غير أنه خشي أن يتخذ مسجداً

    Dari siti Aisyah bahwasanya Nabi Saw bersabda saat sakit menjelang wafatnya “ Semoga Allah melaknat orang yahudi dan nashoro, sebab mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid “. Siti Aisyah berkata “ Jika bukan karena itu, maka aku akan tampakkan makam Nabi namun dikhawatirkan dijadikan tempat sujud “.

    Siti Aisyah ingin menampakkan makam Nabi Saw yaitu tanpa dinding dan pagar, namun beliau khawatir makam Nabi Saw dibuat sujud oleh kaum muslimin yang awam sehingga masuk kategori hadits larangan menjadikan kuburan para Nabi sebgai tempat sujud.

    Maka ucapan siti Aisyah tersebut menjelaskan makna hadits :

    لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور انبيائهم مساجد

    Adalah masjid dalam hadits tersebut ialah tempat sujud bukan bangunan masjid. Dan inilah rahasia doa Nabi Saw :

    اللهم لا تجعل قبري وثناً يعبد

    “ Ya Allah, jangan jadikan makamku sesembahan yang disembah “ Nabi tidak mengatakan :

    اللهم لا تجعل قبري مسجدا

    “ Ya Allah, jangan jadikan makamku sebagai masjid “.

    Doa Nabi Saw terkabuli dan terbukti, bahwa makam beliau Saw tidak menjadi sesembahan kaum muslimin yang berziarah di sana.

    Dalam riwayat lainnya Nabi Saw bersabda :

    اللهم لا تجعل قبري وثناً يصلى له

    “ Ya Allah, jangan jadikan makamku sesembahan yang dijadikan untuk sholat “.

    Maka dengan penejelasan ilmiyyah ini, berdasarkan kaidah-kaidah ilmunya menjadi jelas dan terang bahwa yang dimaksud masjid dalam hadits di awal adalah tempat sujud bukan bangunan masjid.

    Maka makna hadits Nabi Saw :

    لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور انبيائهم مساجد

    Adalah : “ Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashoro, sebab mereka telah menjadikan kuburan para nabi seperti tempat sujud “.

    Inilah makna yang shahih dan yang sebenarnya berdasarkan ilmu bukan hawa nafsu atau kedangkalan cara berpikir.

    Selanjutnya saya akan memaparkan makna hadits ini dan juga hadits yang kedua dari segi ilmu Ushul Fiqihnya. Dan setelahnya saya cantumkan pendapat mayoritas ulama yang memaknai hadits tersebut seperti penjelasan di atas. Sehingga kemusykilan menjadi musnah dan kebenaran semakin jelas dan nyata.

  2. Astaghfirullah…….betapa banyak saudara2 kita kaum muslimin yang tidak menyadari bahwa perbuatan tersbut adlah syirik…..mohon infonya dimana kami harus menuntut ilmu agar islam yang kami jalani benar2 menurut sunnah rasul,,,trimakasih.(kami tinggal digresik,,mungkin ad tempat menuntut ilmu di daerah kami yang sesuai tuntunan baginda rasulMUHAMMAD S.A.W.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s