Meninjau Kembali Kebiasaan: Mendahului Imam dalam Shalat Berjamaah

Sering kita melihat ada Saudara kita pada saat shalat berjamaah, yang entah karena tidak tahu atau karena kelalaian, mendahului gerakan-gerakan Imam dalam shalat terutama saat bangkit dari ruku (i’tidal) dan bangkit dari sujud. Sepertinya hal ini merupakan masalah yang remeh, tetapi bagaimanakah Islam memandangnya? Patut kita cermati hal ini bersama …

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

Artinya : “Tidaklah salah seorang dari kamu takut atau hendaklah salah seorang dari kamu takut apabila ia mengangkat kepadalanya mendahului imam bahwa Allah akan merubah kepadalanya menjadi kepala keledai atau Allah akan merubah rupanya menjadi rupa keledai[1] [2]

Dalam riwayat lain disebutkan : “Allah akan merubah kepalanya menjadi kepala anjing.”[3]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Pada suatu hari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat. Selesai shalat beliau menghadap kepada kami dan berkata :

Wahai sekalian manusia, aku adalah imam kalian. Janganlah kalian mendahului aku ketika ruku’, sujud, berdiri, dan salam. Karena aku dapat melihat kalian di hadapanku maupun di belakangku.”[4]

Diriwayatkan dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallaahu ‘anhumaa, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Artinya : “Janganlah kalian mendahuluiku ketika ruku’ ataupun sujud. Karena walau bagaimanapun cepatnya aku mendahului kalian ruku’ ketika aku ruku’ kalian pasti dapat mendahuluiku ruku’ sebelum aku bangkit darinya, karena aku sudah berumur.”[5]

Dari ‘Abdullah bin Yazid, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Al Baraa’ (bin ‘Aazib) –dan ia bukanlah seorang pendusta-: “Sesungguhnya para Sahabat apabila shalat di belakang Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam, maka apabila beliau mengangkat kepalanya dari ruku’ (i’tidal), maka saya tidak melihat seorang pun juga yang membungkukkan punggungnya (untuk turun sujud) sampai (mereka melihat) Rasululllah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah meletakkan keningnya ke tanah, kemudian barulah orang-orang yang di belakang beliau turun ke sujud.”[6]

Dan dalam salah satu riwayat Bukhari dan Muslim (dan lafadznya dari Muslim) sebagai berikut:

“Dari ‘Abdullah bin Yazid (ia berkata): Telah menceritakan kepadaku Al Baraa’ –dan ia bukanlah seorang pendusta-, ia berkata: “Biasa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau mengucapkan “sami’allahu liman hamidah”, maka tidak ada seorang pun di antara kami yang membungkukkan punggungnya (turun ke sujud) sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud (dengan sempurna), kemudian kami pun (turun) sujud sesudah (melihat) beliau (sujud).”[7]

Dan dalam salah satu riwayat Bukhari dan Muslim (dan lafadznya dari Muslim) sebagai berikut:

“Dari ‘Abdullah bin Yazid, ia pernah berkata dari atas mimbar: Telah menceritakan kepadaku Al Baraa’: “Sesungguhnya para Sahabat biasa shalat bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (shalat berjama’ah), maka apabila beliau ruku’ mereka pun ruku’, dan apabila beliau mengangkat kepalanya dari ruku’nya (I’tidal), maka beliau mengucapkan “sami’allahu liman hamidah” (kemudian beliau sujud), maka senantiasa  kami tetap berdiri (dalam posisi i’tidal ) sampai kami melihat beliau telah meletakkan wajahnya ke tanah, kemudian kami pun mengikutinya.”[8]

Dan dalam salah satu riwayat Muslim sebagai berikut:

“Dari  Abdurrahman bin Abi Laila, dari Al Baraa’, ia berkata : “Kami biasa (shalat) bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak ada seorang pun di antara kami yang membungkukkan punggungnya sampai kami melihat beliau telah sujud (dengan sempurna).”[9]

Dalam hadits yang lain:

Dari ‘Amr bin Harits, ia berkata: “Saya pernah shalat shubuh di belakang Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka saya mendengar beliau membaca Falaa uqsimu bilkhunnas (surat At Takwir), maka tidak ada seorang pun dari kami yang membungkukkan punggungnya (untuk turun sujud) sampai (kami melihat) beliau sujud dengan sempurna.”[10]

Dalam hadits lain:

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah bersabda RAsulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya dijadikan imam itu untuk dituruti (diikuti). Maka apabila imam takbir (takbiratul ihram), maka takbirlah kamu, dan janganlah kamu takbir sampai imam takbir (terlebih dahulu dari kamu). [Dan apabila imam membaca, maka hendaklah kamu diam (mendengarkan bacaan imam)]. Dan apabila imam ruku’, maka ruku’lah kamu, dan janganlah kamu ruku’ sampai imam ruku’ (terlebih dahulu dari kamu). Dan apabila imam mengucapkan “sami’allahu liman hamidah.” Maka hendaklah kamu mengucapkan “Rabbana wa lakalhamdu.” Dan apabila imam sujud, maka sujudlah kamu, dan janganlah kamu sujud sampai imam sujud (terlebih dahulu dari kamu). Dan apabila shalat sambil berdiri, maka shalatlah kamu sambil berdiri, dan apabila imam shalat sambil duduk, maka shalatlah kamu semua sambil duduk.[11]

Faidah Hadits:

  1. Beberapa hadits yang mulia di atas telah menjelaskan kepada kita salah satu hukum yang sangat besar dan menjadi asas di dalam shalat berjama’ah yaitu mengikuti imam. Tidak boleh mendahului atau bersamaan dengan imam di dalam takbir, ruku’, i’tidal, sujud, duduk, berdiri, dan salam. Alangkah banyaknya kaum muslimin yang melalaikan dan meremehkan hukum yang sangat besar ini di dalam shalat berjama’ah setiap hari di masjid-masjid mereka. Hal ini disebabkan diamnya dan jahilnya para imam masjid bersama kejahilan yang merata dari para ma’mum. Tentu saja hal itu juga disebabkan karena mereka tidak pernah diajarkan atau diperingati oleh para imam masjid akan hukum yang sangat besar ini yang akan membawa kerusakan pada shalat-shalat mereka kalau mereka meninggalkannya. Selain dari itu, mereka pun sangat malasnya dalam menuntut ilmu dari ahlinya sehingga kejahilan terhadap Islam telah mendarah daging pada diri-diri mereka. Allahuma kecuai sedikit sekali dari yang paling sedikit di antara para imam masjid bersama para ma’mum yang memelihara dan mengamalkan hokum di atas. Yaitu dari kaum muslilmin yang senantiasa berpegang dengan Al Kitab dan Sunnah Nabi yang Mulia shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka hanya kepada Allah kita memohon pertolongan atas keasingan Islam pada anak-anak Islam, pada diri, pada keluarga, dan pada masyarakat mereka.[12]
  2. Mendahului imam hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ahli ‘ilmu. Seorang makmum tidak boleh ruku’ sebelum imam atau bangkit dari ruku’ atau sujud sebelumnya .
  3. Makmum yang sengaja mendahului imam shalatnya tidak sah. Kalaupun shalatnya dianggap sah, tentu diharapkan pahala dan tidak diharapkan atasnya hukuman, yaitu Allah akan merubah rupanya menjadi rupa keledai atau anjing. Ini merupakan pendapat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallaahu ‘anhumaa, Ahmad bin Hanbal, dan Ibnu Taimiyyah.
  4. Dorongan mendahului imam biasanya karena terburu-buru. Sekiranya pelakunya memperhatikan akibat perbuatannya, tentu ia tahu bahwa terburu-buru itu tidak membawa manfaat. Karena ia tidak akan bisa mengakhiri shalat (dengan mengucapkan salam) sebelum imam. Maka hendaklah ia sabar mengikuti imam dalam seluruh gerakan shalat.[13]

Para pembaca yang kami hormati –rahimakallaahu-, sebagai penutup, kami sertakan kisah yang disampaikan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani -rahimahullah- tentang sebagian penuntut ilmu, bahwasanya ada di antara mereka yang melakukan perjalanan ke Damaskus untuk menimba hadits dari seorang Syaikh tersohor yang ada di sana. Lalu ia pun belajar dan membacakan beberapa hadits di hadapan Syaikh tersebut. Akan tetapi Syaikh itu selalu membatasi antara diri dengan murid-muridnya dengan sebuah tabir, sehingga mereka tidak dapat melihat wajahnya.

Ketika seorang murid tersebut telah lama mengambil ilmu darinya, dan ia mengetahui betapa antusias murid yang satu ini, akhirnya ia membuka tabir agar muridnya itu dapat melihat wajahnya. (Setelah dibuka) ternyata rupa Syaikhnya berwujud keledai.

Kemudian Syaikh tersebut berkata seraya menasehati:

Berhati-hatilah wahai muridku dari mendahului imam (dalam shalat), karena sesungguhnya aku pernah membaca sebuah hadits (Hadits tersebut berbunyi:

أَمَا يَخْشَى الَّذِي يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ

Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah akan merubah kepalanya menjadi kepala keledai?! (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dan aku menganggap hal itu tidak mungkin terjadi. Lalu aku pun mendahului imam dan ternyata wajahku berubah seperti yang engkau lihat sekarang ini[14].

Semoga Allah merahmati Syaikh dan mengampuni segala dosanya.  Meskipun ia pernah meragukan sebuah hadits Nabi -shollallahu alaihi wa sallam-, namun alhamdulillâh ia bertaubat kepada Allah dan menasehati murid-muridnya agar tidak meragukan, melecehkan atau menentang sunnah yang datang dari beliau -shollallahu alaihi wa sallam-.[15]

Diselesaikan di Kendalrejo, 20 Januari 2011

Oleh

Cipto Abu Yahya

–semoga Allah mengampuni dan memaafkan dosa dan kesalahannya-

Referensi:

  1. Al Masaa-il, Jilid 7, karya ust Abdul Hakim Amir Abdat, terbitan Darus Sunnah, cetakan kedua, September 2007
  2. http://www.majalahislami.com/2009/03/belajar-dari-pengalaman/
  3. http://k4ligondang.wordpress.com/2007/11/05/haram-hukumnya-mendahului-imam-ketika-ruku-sujud-atau-lainnya/
  4. http://syababpetarukan.wordpress.com/2011/01/20/meninjau-kembali-kebiasaan-mendahukui-imam-dalam-shalat-berjamaah/

Footnote

[1] Beberapa ahli ilmu berpendapat maksud perubahan disini adalah perubahan majazi, maksudnya menjadikan pelakunya bodoh seperti keledai. Karena keledai memiliki sifat bodoh. Sekiranya perubahan disini adalah perubahan hakiki tentunya sudah banyak terjadi karena banyaknya orang yang melakukan seperti itu.

Namun pendapat itu perlu diteliti lebih lanjut, karena ancaman itu terkadang benar-benar terjadi sekarang dan kadangkala tidak terjadi sekarang. Hanya saja hadits tersebut menyebutkan bahwa barangsiapa melakukannya maka terancam mendapat hukuman seperti itu. Dalam hadits Abu Malik al-Asy’ari Radhiyallaahu ’anhu tentang pengharaman alat-alat musik telah disebutkan bakal terjadinya al-maskh (perubahan bentuk menjadi hewan karena kutukan) di kalangan umat ini.

[2] HR Bukhari (691) dan Muslim (427)

[3] HR Ibnu Hibban (2283), riwayat ini secara jelas menunjukan bahwa al-maskh tersebut terjadi secara hakiki, bukan majazi.

[4] HR Muslim (426)

[5] Hadits hasan, diriwayatkan oleh Abu Dawud (619), Ibnu Majah (963), Ahmad (IV/92-98), a-Darimi (1/301-302), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (848) dari Jalur Muhammad bin Ajlan, dari Muhammad bin Yahya bin Hibban, dari Ibnu Muhairiz dari Mu’awiyah Radhiyallaahu ‘anhu. Saya katakan (Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali) : “Sanadnya hasan, perawinya tsiqah kecuali Muhammad bin Ajlan, ia hanya seorang perawi shaduq.”

[6] Lafadznya demikian:

‘an ‘abdillahi bni yaziida qoola: haddatsaniy Al Baroo-u _wahuwa kadzuubin_ : annahum kaanuu yusholluuna kholfa Rosuulillaahi shollallaahi ‘alaihi wa sallama fa idza rofa’a ro-sahu minar rukuu’i lam aro ahadan yahnii dzohrohu hatta yadho’a Rosuulullaahi shollallaahu ‘alaihi wa sallama jabhatahu ‘alaal ardhi tsumma yakhirru man waroo ahu sujjadan.

Hadits Shahih. Telah dikeluarkan oleh Bukhari (no: 690, 748, dan 811) dan Muslim (no: 474 dan lafadz ini miliknya).

[7] Berikut ini lafadznya:

‘an ‘abdillahi bni yaziida: haddatsaniy Al Baroo-u _wahuwa kadzuubin_ qoola: kaana Rosuulullaahi shollallaahu ‘alaihi wa sallama idza qoola: sami’allaahu liman hamidahu, lam yahni ahadun minna dzohrohu hatta yaqo’a Rosuulullaahi shollallaahu ‘alaihi wa sallama saajidan tsumma naqo’u sujuudan ba’dahu.

[8] Berikut ini lafadznya:

‘an ‘abdillahi bni yaziida yaquulu ‘alal minbari: haddatsana Al Baraa-u: annahum kaanuu yusholluuna ma’a Rosuulillaahi shollallaahu ‘alaihi wa sallama fa idza roka’a roka’uu wa idza rofa’a ro-sahu minar rukuu’i faqoola sami’allahu liman hamidahu lam nazal qiyaaman hatta naroohu qod waqo’a wajhahu fil ardhi tsumma nattabi’uhu.

[9] Berikut ini lafadznya:

‘an ‘abdirrohmani bni abii Laila ‘anil Baroo-i qoola: kunna ma’an Nabiyi shollallaahu ‘alaihi wa sallama laa yahnuu ahadun minna dzohrahu hatta nazaahu qod sajada.

[10] Berikut ini lafadznya:

‘an ‘amri bni huroitsin qoola: shollaitu kholfan Nabiyi shollallaahu ‘alaihi wa sallama al fajro fasami’tuhu yaqro-u falaa iqsimu bil khunnasi, al jawaaril kunnasi wa kaana laa yahnii rojulun minna dzohrohu hatta yastatimma saajidan.

Dikeluarkan oleh Muslim (no: 475)

[11] Berikut ini lafadznya:

‘an Abii huroirota qoola: qoola Rosuulullaahi shollallaahu ‘alaihi wa sallama: “innama ju’ilal imaamu liyu-tamma bihi, fa idza kabbaro fa kabbiruu walaa tukabbiruu hatta yukabbiro, [wa idza qoro-a fa anshituu] wa idza roka’a farka’uu walaa tarka’uu hatta yarka’a, wa idza qoola: sami’allaahu liman hamidahu, fa quuluu: Allaahumma Robbanaa [wa] lakal hamdu wa idza sajada fasjuduu, walaa tasjuduu hatta yasjuda, wa idza sholla qoo iman fasholluu qiyaaman wa idza sholla qoo’idan fasholluu qu’uudan ajma’uuna.

Shohih. Dikeluarkan oleh Abu Dawud (no: 603)

[12] Faidah disarikan dari kitab Al Masaa-il, Jilid 7, karya ust Abdul Hakim Amir Abdat, terbitan Darus Sunnah, cetakan kedua, September 2007, hal. 63-64

[13] Faidah kedua sampai keempat disarikan dari artikel berjudul Haram Hukumnya Mendahului Imam Ketika Ruku’, Sujud atau Lainnya di url: http://k4ligondang.wordpress.com/2007/11/05/haram-hukumnya-mendahului-imam-ketika-ruku-sujud-atau-lainnya/

[14] al-Qaul al-Mubîn fî Akhtâ` al-Mushallîn, karya Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman, hlm. 252, cetakan Dâr Ibnul Qayyim dan Dâ Ibn Hazm melalui perantaraan http://www.majalahislami.com/2009/03/belajar-dari-pengalaman/

2 thoughts on “Meninjau Kembali Kebiasaan: Mendahului Imam dalam Shalat Berjamaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s