KH. Makhrus Ali, Mantan Kyai NU yang Mendakwahkan Sunnah di Kalangan Nahdhiyin

“Tahlilan merupakan budaya agama Hindu, hal ini dibuktikan dengan ungkapan syukur dari pendeta dalam sebuah acara berikut ini, “Tahun 2006 silam bertempat di Lumajang, Jatim diselenggarakan kongres Asia penganut agama Hindu. Salah satu poin penting yang diangkat adalah ungkapan syukur yang cukup mendalam kepada Tuhan mereka karena bermanfaatnya ajaran agama mereka yakni peringatan kematian pada hari 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 40, 100, 1000 dan hari matinya tiap tahun yang disebut geblak dalam istilah Jawa(atau haul dalam istilah NU-ed) untuk kemaslahatan manusia yang terbukti dengan diamalkannya ajaran tersebut oleh sebagian umat Islam” (KH. Makhrus Ali dalam buku “Mantan Kyai NU menggugat Tahlilan, Istighosahan dan Ziarah para Wali” hal.23)

“Muktamar NU ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabi’uts tsani 1345H/21Oktober 1926M mencantumkan pendapat Ibnu Hajar Al-Haitami dan menyatakan bahwa selamatan setelah kematian (yakni Tahlilan dan Yasinan-ed) adalah Bid’ah yang hina/tercela, namun tidak sampai mengharamkannya. (Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, keputusan Muktamar, Munas Kombes Nahdhatul Ulama (1926-2004M) LTN NU Jawa Timur Bekerja sama dengan Penerbit Khalista, Surabaya-2004. Cetakan ketiga, Februari 2007 Halaman 15 s/d 17).” (KH. Makhrus Ali dalam buku “Mantan Kyai NU menggugat Tahlilan, Istighosahan dan Ziarah para Wali” hal.19)

Bagi warga Sidoarjo, khususnya bagi warga NU, nama KH. Makhrus Ali amat dikenal. Beliau adalah seorang tokoh kyai besar yang telah terjun di medan dakwah. Tapi siapa yang menyangka kalau KH. Makhrus Ali berubah manhajnya dalam beragama yang semula sebagai seseorang yang gemar melakukan tradisi dan amaliah kebid’ahan, kini beralih menjadi seorang Ahlussunnah. Insya Allah.

Biografi dan Perjalanan Ilmiah Mantan Kyai NU

 

KH. Makhrus Ali adalah seorang mantan Kyai NU, begitulah beliau mengenalkan dirinya dalam tulisan-tulisan beliau. Beliau lahir dan bernasab NU di dusun Telogojero desa Sidomukti kecamatan Giri-Gresik Jatim pada tanggal 28 Desember 1957. Sejak lahir hingga usia 40 tahun, beliau telah menjadikan paham Ahlussunnah wal Jama’ah ala NU sebagai identitas kultural, keagamaan, basis teologi dan dakwahnya.

Beliau adalah adik dari KH. Mujadi, pimpinan ponpes KH. Mustawa  Sepanjang-Sidoarjo, menantu Kyai Imam Hanbali (seorang tokoh NU yang disegani di Waru-Sidoarjo), adik ipar KH. Hasyim Hanbali, pimpinan ponpes Asy-Syafi’iyyah dan juga adik ipar dari KH. Abdullah Ubaid, pengasuh ponpes Manba`ul Qur`an Tambak Sumur, Waru-Sidoarjo.

Setelah menamatkan pendidikan di Madrasah MI-NU Sidomukti (1970/1971), beliau meneruskan studinya ke ponpes Langitan Tuban-Jatim selama 7 tahun yang saat itu diasuh oleh KH. Abdul Hadi Zahid, KH. Ahmad Marzuqi (mbah Mad) dan KH. Abdullah Faqih. Selama belajar di Langitan, KH. Makhrus Ali sering menjadi bintang kelas dan juara membaca kitab kuning. Bahkan beliau pernah diamanahi untuk mengajar di Langitan selama 2 tahun hingga akhirnya beliau dikirim oleh KH. Abdullah Faqih ke Bangil untuk mengajar di ponpes YAPI yang diasuh oleh Habib Husain Al-Habsyi. Selama di YAPI, beliau dipercaya untuk mengajar materi Nahwu, Sharaf, Fara`idh, Hadits dan tafsir. Beliau juga dipercaya untuk memimpin pondok tersebut bersama ust. Imran (sekarang mengasuh di ponpes Parengan-Lamongan).

Setelah itu beliau melanjutkan studi ke Mekkah, tepatnya di Jama’ah Tahfizhil Qur’an, langsung di bawah bimbingan Syaikh Yasin Al-Banjari, Syaikh Wa’il dan Syaikh Sa’ad bin Ibrahim sambil sesekali ngaji rungon kepada Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani (seorang ulama yang diidolakan dan menjadi panutan Kyai, Habib, Gus dan ulama NU) hingga mengkhatamkan selama 3 tahun.

KH. Makhrus Ali juga berguru kepada Syaikh Yasin Al-Fadani, seorang ahli sanad hadits dan memperoleh ijazah sanad dari beliau untuk ribuan kitab hadits dan fiqih. Selain itu, KH. Makhrus Ali juga belajar kepada Syaikh Husain Abdul Fattah dan Syaikh Abdullah bin Humaid, ketua Qadhi di Saudi Arabia. Beliau juga sempat belajar kepada Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz saat menjabat sebagai ketua Lajnah Daa`imah. Syaikh Bin Baaz adalah seorang ulama mufti yang tuna netra namun paling disegani di Saudi Arabia. KH. Makhrus Ali juga pernah membantu Dr. hikmat Yasin Al-Iraqi untuk menulis Tafsir Ibnu Abi Hatim dan Muhammad bin Ishaq dalam bahasa Arab selama 2 tahun. Beliau juga dipercaya menjadi muadzin sekaligus imam di masjid Al-Husain di Aziziyah-Mekkah selain memberikan cerama agama. Beliau juga menjadi rujukan pertanyaan tentang manasik haji jama’ah haji dari Indonesia di maktab Syaikh Abdul Hamid Mukhtar Sidayu.

Tahun 1987, beliau kembali ke tanah air setelah belajar di Saudi Arabia selama 7 tahun dan mulai terjun di dunia tulis menulis, mengarang buku dan menerjemahkan buku-buku berbahasa Arab ke bahasa Indonesia. Naskah yang sudah beliau tulis dan terjemahkan sudah amat banyak.

Beliau menikah dengan Hj. Faizah, seorang hafizhah alumni ponpes Nurul Huda Singosari Malang-Jatim, putri dari Kyai Hanbali (seorang tokoh yang disegani di Waru-Sidoarjo yang pernah nyantri langsung kepada Hadhratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, pengasuh ponpes Tebu Ireng Jombang-Jatim).

Masa Lalu Mantan Kyai NU

 

 

Sebagaimana pada umumnya kaum tradisionalis NU, kehidupan KH. Makhrus Ali pun bagitu kental dengan tradisi-tradisi yang ada dalam NU, semisal Yasinan, Tahlilan, Istighasahan dan lainnya. Beliau menuturkan, “ Dulu sewaktu saya masih berpendirian antara Muhammadiyah, NU, Al-Irsyad, LDII, Al-Khairiyah, saya selalu memimpin acara tahlilan di tempat saya. Saya anggap acara itu sebagai bacaan dzikir yang baik. Kalau toh tidak sampai kepada mayat, pahalanya juga bisa dimanfaatkan secara pribadi oleh para pembacanya. Hal itu terjadi setelah saya kenal dengan Ust. Habib Husain Al-Habsyi-Bangil (yang sekarang masih berkubang dalam lumpur kesyirikan. Semoga Allah member hidayah kepadanya). Waktu itu saya menjadi salah satu guru di pondok tempatnya mengasuh. Sebelum itu, saya termasuk kolot. Saya selalu mengikuti apa yang diikuti oleh guru-guru saya. Saya termasuk juga hafal Burdah, Barzanji, Tahlilan, Alfiyah, dan Imrithi. Dan banyak kitab kuning yang saya sudah ngelontok (hafal di luar kepala). Waktu itu saya tidak khawatir bila saya mati, saya akan masuk surga. Saya waktu itu menjadi penceramah di kalangan remaja NU di Sidomukti Giri Gresik-Jatim. Saya tidak khawatir lagi bila malaikat maut datang sebab saya ikut agama kakek dan nenek saya.

 

 

Ketika saya pulang dari ponpes, saya ikut diba`an. Di ponpes pun saya juga tiap malam Jum’at ikut diba`an dan tahlilan. Saya katakana, saya hafal betul, sampai sekarang kalau ada orang baca diba` keliru, saya masih mengerti kalau dia keliru. Kumpulan saya memang hanya dari kalangan NU. Dan saya mengikuti budaya mereka. Saya tidak mengerti salah, bid’ah, sesat dan kesyirikan dalam amaliah yang saya jalankan. Saya katakan saya tidak tahu. Saya paham ilmu katanya guru.”


 

 

Ketika Hidayah Sunnah Menyapa

 

 

Menjadi seorang Ahlussunnah adalah impian bagi setiap muslim. Sebab Apa? Karena hanya Ahlussunnah-lah firqah yang benar. Oleh karena itu, kita mendapati setiap kelompok dalam Islam mengklaim diri mereka sebagai Ahlussunnah (kecuali Syi’ah). Walaupun secara aqidah dan amaliah mereka tidaklah demikian, tapi justru berlandaskan penyimpangan demi penyimpangan (Syirik, Bid’ah, khurafat dan Tahayul).

Dan inilah yang dialami oleh KH. Makhrus Ali. Ketika hidayah Sunnah menyapa, beliaupun menyambutnya dengan tangan terbuka. Beliau menuturkan, “Sewaktu kyai saya datang ke rumah, ketika saya membaca buku fatawa Mahmud Syaltut, Kyai saya bilang, “Jangan membaca kitab seperti itu!”

 

 

Mungkin maksudnya agar saya mengikuti paham salafiyyah ala pesantren NU, dan masih belum waktunya untuk membaca buku seperti itu. Sebab, Syaltut adalah rektor Al-Azhar yang pikirannya terbuka dan memilih yang benar dari beberapa pandangan ulama, tidak terikat kepada salah satu golongan. Saya sudah memegang buku bahasa karangan bahasa Arab karangan rektor Al-Azhar itu ketika usia saya baru 16 tahun.”

 

 

Beliau melanjutkan, “Bila saya bertemu dengan kyai, saya mencium tangannya. Saya tidak berani berbicara di mukanya. Memang begitulah budaya santri. Sekarang saya sudah mengerti bahwa para sahabat bila bertemu dengan Rasulullah tidak pernah mencium tangan. Dan saya belum tahu haditsnya dimana para sahabat mencium tangan Rasulullah.”

 

Selama 40 tahun KH. Makhrus Ali berkubang di dalam tradisi dan amaliah yang bid’ah dan syirik. Namun hidayah datang kepada beliau. Beliau menceritakan keadaan dirinya saat ini, “Sekarang saya sudah bisa mengkaji ilmu dan bisa mencari mana yang benar karena anugerah dari Allah dan rahmat-Nya. Saya pilih mana yang tidak menyimpang dan yang cocok dengan dalil. Saya jadi geleng-geleng kepala ketika mengenang perbuatan saya waktu dulu. Pikir saya, mengapa tidak dari dulu saya ikut aliran Al-Qur’an dan Al-Hadits. Ah…itu semua tidak bisa diperkirakan.”

 

 

KH. Makhrus Ali melanjutkan cerita, “Hati saya berontak dengan ajaran tradisional, tapi mulut saya tidak bisa bicara. Pikiran tidak cocok, tapi mau mendebat tidak punya ilmu. Setelah banyak pengalaman, ilmu saya selalu diluruskan dengan dalil dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Maka ilmu tradisional yang telah mendalam di lubuk hati dan pikiran waktu dahulu, kini terbuang. Entah kemana, mungkin ke recycle bin atau keranjang sampah. Saya yang dulu lain dengan yang sekarang. Ilmu saya dulu ngambang, mengaku benar tapi menurut saya sendiri dan golongan  saya. Bila saya mati, saya sudah merasa yakin akan masuk surga menurut pemahaman saya dan golongan saya. Jadi surga-surgaan sebagaimana layaknya orang non-muslim mengaku akan masuk surga. Inilah yang saya khawatirkan.”

 

 

“Di saat saya belum berpikir sebagaimana pemikiran Ahli Hadits (yakni Ahlussunnah-pen), ilmu saya hanya taklid, tidak ingin ada pikiran untuk mengkaji suatu hadits atau suatu ajaran dan tidak ada agenda kesana. Atau memang belum mendapatkan pertolongan dan hidayah dari Allah untuk membuang bid’ah, syirik, khurafat, taklid buta, menolak hadits, menolak ajaran “baru” yang benar yang menghapus khurafat dan ajaran sesat dari hati saya”, lanjut beliau.

Beliau menerangkan lagi, “Apalagi menurut Syaikh Shalih Fauzan, Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy atau Syaikh Abdul Aziz bin Baaz (rahimahumullaah, semuanya adalah nama-nama ulama Ahlusunnah yang tidak dikenal oleh kalangan NU, padahal orang-orang NU mengaku diri mereka sebagai Ahlussunnah-ed), maka saya termasuk penyembah kuburan, suka kebid’ahan dan matinya berbahaya.”

 

 

Akhirnya beliau tinggalkan seluruh ritual dan amaliah yang bid’ah dan syirik yang dahulu beliau amalkan ketika masih berpaham NU. Dan sekarang beliau senantiasa mendakwahkan kepada manusia bahwa amalan-amalan yang mayoritasnya diamalkan oleh kaum Nahdhiyin adalah bid’ah dan harus ditinggalkan.

Jalan hidayah tidaklah selalu mulus. Akan ada penghalang dan penentang yang tidak setuju apabila seseorang mengubah keyakinannya yang semula berkubang dengan kebid’ahan dan beralih kepada manhaj Ahlussunnah yang haq. Demikian juga yang dialami oleh KH. Makhrus Ali. Beliau menuturkan, “Sekarang saya ikut aliran ahli hadits(ahlussunnah-ed), disalahkan oleh ibu saya, keluarga saya dan golongan saya dulu. Saya pikir di dunia ini yang penting adalah lurus dan ajaran saya cocok dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dan yang jelas harus beda dengan ahli bid’ah.”

 

 

Melalui penanya yang tajam, beliau mengkritisi setiap tradisi dan amaliah menyimpang yang banyak dilakukan oleh kaum tradisional. Bukan hanya dari kalangan awwam saja, namun dari para tokoh yang dijunjung tinggi pun masih banyak yang bergelimang dalam kebid’ahan.

Inilah sosok seorang Kyai yang telah kembali kepada ajaran Islam yang murni, Ahlussunnah yang sesungguhnya. Ya, Ahlussunnah. Dinamakan demikian karena Ahlussunnah adalah lawan dari bid’ah dan ahlinya. Kalau ada golongan atau kelompok yang berkubang dalam kebid’ahan namun mereka mengklaim diri mereka sebagai Ahlussunnah, maka klaim itu hanya sebatas klaim dusta.

Kita berdoa kepada Allah agar para kyai yang kini tengah berkubang dalam kebid’ahan mendapatkan hidayah sehingga mereka bisa meninggalkan kebid’ahan mereka, sehingga mereka betul-betul menjadi sosok alim yang faqih yang bisa dijadikan umat sebagai rujukan ilmu dan bisa mewujudkan Al-‘Ulamaa` waratsatul Anbiyaa` (Para ulama adalah pewaris para nabi). Aamiin.

(Ditulis ulang dengan pengeditan dan penambahan seperlunya dari buku “Mantan Kyai NU menggugat Tahlilan, Istighasahan dan Ziarah para Wali” karya KH. Makhrus Ali)

Oleh Al-Faqir Ilallaah Aqil Azizi

55 thoughts on “KH. Makhrus Ali, Mantan Kyai NU yang Mendakwahkan Sunnah di Kalangan Nahdhiyin

  1. Banyak Orang mengaku Ahlussunnah wal Jama’ah, tapi pengakuan itu harus dibuktikan dengan amal. Apakah sesuai sunnah atau bahkan menyelisihi sunnah.

    Nah.. Bagi yang ingin mendalami Ahlussunnah wal Jama’ah, dengarkan radio FAJRI 99.3 FM Bogor. Radio yang Insya Alloh full 24 konsisten mendakwahkan Islam yang murni Ahlussunnah wal Jama’ah.

  2. hayyah,,,
    pada ribut ni napa tooo to
    yang udah rajin ibadah di olok olok
    mbok yang g tahu ngibadah iku di urus.
    kalo yang suka tahlilan aja di bilang gitu
    trus yang kaya anak jalanan,preman, yang suka ma band band itu trus kaya apa nanti.sementara belum ada yang memperhatikan.py jal??

  3. bacalah kitab fathul majid kitab tauhidnya para ulama besar madianah dan makkah insya allah akan tau macam2 ilmu tentang kesirikan jangan kalian berdebat tanpa adanya dalil2 yg shohih.

    • coba kita renungkan… kita adalah cermin dari kehidupan orang tua dan seterusnya..
      orang tua adalah juga manusia Yang Tidak Sempurna…kewajiban kita utk taat, patuh serta hormat (selama dalam jalur kebenaran yg tidak melanggar syariat islam)…
      bgmn dg au walidin sholihin yad’ulah…Sungguh DURHAKA jika mahrus ali tidak mendoakan orang tuanya yg sudah meninggal…Al-Hadits/sunnah rasul…jiwa rasul Muhammad yg tidak pernah mencela apalagi sesama muslim…
      Yakinkan diri ANDA SENDIRI dari semua apa yang anda lihat, saksikan dan rasakan… karena anda juga berangkat dari BUKU atau KITAB yang mesti dibuktikan dg kehidupan yang sebenarnya… Intinya ANDA SALAH jika KEBENARAN ITU HANYA MILIK ANDA…

      • kebenaran adaah milik Allah semata… dan itu sudah disampaikan dalam Al-Qur’an dan Sunnah … jika anda mengatakan ini adalah kebenaran beliau sendiri ( yang beliau mengambil dari Al-Qur’an dan Sunnah ) maka kebenaran siapa menurut anda yang benar jika Al-Qur’an dan Sunnah dikatakan salah…?

  4. kapan kah sebuah amal akan bernilai ibdah? amal akan bernilai ibadah apa bila 1.ihlas karena allah 2.mutaba ah (mengikuti tuntunan rosululloh saw) Rosulullah saw bersabda : sesungguhnya barang siapa yg hidup di antara kalian stelahku maka akan melihat perselisihan yg banyak. maka hendaknya kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khulafaurrosyidin dimana mereka itu telah mendapatkan petunjuk.

  5. Setiap orang bertindak, dipastikan didahului oleh cara berpikirnya. Makin banyak kita melihat fenomena sekitar, akan memantik pemikiran-pemikiran baru yang kemudian sangat memungkinkan dapat mengusir pemahaman-pemahaman lama dari benaknya. Saya acungkan jempol buat Ust Makhrus Ali, jangan kecil hati dengan gugutan atau klaim merusak suatu persatuan (c/o: jamaah NU), Rasulullah-pun pernah di-cap sebagai perusak persatuan Quraisy, namun berhasil membangun persatuan Tauhid. Yang memusuhi beliau? Sepanjang hayatnya banyak musuhnya kok.!! Yang memusuhi dan yang mengelu-elukannya secara over dosispun (kultus) tak akan merubah beliau sebagai manusia egalitarian dan hamba Allah yang selama hayatnya dishalawati Allah. Bagi Ahli bid’ah, kita berharap setidaknya agar mereka tahu bahwa mereka itu berkecipung dalam kebid’ahan. The rest is up to them…….

  6. males, deh. orang kalau sudah fanatik sama golongan, bicara benar kaya apapun pasti di tolak. “Lana a’maluna wa lakum a’maulukm ” aje, deh.

  7. kepada bapak makhrus ali teruslah berjuang tegakkanlah sunnah dengan tajamnya penamu…, mereka membantah..dengan cara yang lemah, sebenarnya didalam hati mereka dipenuhi keraguan… karena sudah terlanjur menjelekkan tentu malu kalau mengakui bahwa ini benar…, rosullah sudah mengabarkan kepada kita lewat hadis muslim.. islam itu pertama muncul aneh, dan diakhir zaman kembali dianggap aneh, islam akan kembali keasalanya seperti ular kembali kesarangnya , yaitu mekkah dan madinah” secara logika mana mungkin diakhir zaman seperti ini Allah akan memberikan kesesatan di Mekkah dan Madinah, dajjal aja nggak bisa masuk ditanah haram…., apalagi aliran sesat….! kemenangan ahlussunnah atas ahlu bid’ah adalah kemenangan di atas hujjah.. jazakallah …

  8. memahami agama kok sesuai selera sendiri…., kalau gitu saya bisa aja make dalil untuk menciptakan agama islam dengan versi baru, sebagai contoh saya datang kemesjid jam 7.00 wib…, sambil ngajak orang rame-rame, lalu saya azan pake mic…, sesudah itu saya tawaf 7 kali mengelilingi mesjid, setelah itu saya..sholat sunnat 15 rokaat… dengan satu salam…sesudah itu saya zikir keras-keras 777 kali, setelah itu saya solawatan…,setelah itu saya yasinan,…setelah itu saya tawaf lagi…, habis itu saya makan nasi kebuli…, sambil solawatan.., lalu saya namakanlah ini dengan aliran THARIKAT INDONESYIAH…., yang saya lakukan itu semua baik dan ada dalilnya.., dan yang saya lakukan itupun tidak ada dalil yang melarang….,
    1. saya kemesjid dalilnya adalah makmurkan mesjid.
    2. bukankah azan juga perbuatan yang baek dengan dalil menegakkan syiar islam.
    3.bukankah tawaf juga ajaran islam, karena nggak ada uang mau ke mekkah tawaf dimesjid kan nggak apa2 yang penting kan niatnya.
    4. apalagi zikir-zikir itu juga ada dalilnya.
    5. juga sholawatan juga baek.
    6.kemudian tawaf
    7.kemudian makan sambil sholawatan menggabungkan dua perbuatan baik….
    dan ini adalah saya namakan THARIKAT…adalah jalan menuju Allah….( katakanlah begitu )….
    karena ini di Indonesia saya namakan THARIKAT INDONESYIAH…
    yang menjadi pertanyaan apakah semua ritual ini benaaaaar?

    • Bos… Kalau namanya Adzan sudah ada jelas tuntunannya dan batasAnnya… Begitupun dengan thowaf… TApi kalau dateng ke masjid jam 7 pagi adakah larangannya… Berkumpul dimasjid jam 7 pagi adakah larangannya… Tidak semua yang ditinggalkan oleh nabi harus ditinggAlkan… PernahkAh nabi Muhammad berhaji naik pesawat, pernahkah nabi Muhammad bersedekah dengan transfer, dengan mata uang Rupiah.. Kepada lembaga baitul mal yang tidak ditunjuk. Pemerintah… Kalau antum mencuri atau membunuh.. Hukumnya berdasarkan KUHP atau Al Quraan… Kalau antum ditangkap dan menggunakan KUHP .. Maka antum adalah ahlul bidah sejati …

      • tidak semua amalan yg kalian kerjakan anggap baik itu dianggap baik oleh allah.terbukalah hati kalian dalam memahami ilmu agama.cobalah anda membaca kiatab tauhid terbaik didunia fathul majid.

    • Silahkan direnungkan:

      Suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mendengar berita tentang pernyataan tiga orang, yang pertama menyatakan: “Saya akan shalat tahajjud dan tidak akan tidur malam”, yang kedua menyatakan: “Saya akan bershaum (puasa) dan tidak akan berbuka”, yang terakhir menyatakan: “Saya tidak akan menikah”, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menegur mereka, seraya berkata: “Apa urusan mereka dengan menyatakan seperti itu? Padahal saya bershaum dan saya pun berbuka, saya shalat dan saya pula tidur, dan saya menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukanlah golonganku.” (Muttafaqun alaihi)

      Semua ibadah ada tuntunannya. Anda membuat perbuatan seperti itu pasti akan dilarang oleh penduduk dan Ulama setempat. Silahkan dibuktikan!!!

      Kalau larangan tentang perbuatan Anda di dalam Al-Qur’an dan Hadist jelas tidak ada. Silahkan di check sendiri. Karena perbuatan Anda adalah baru, sedangkan Al-Qur’an dan Hadist sudah diturunkan ribuan tahun silam.

      Dan Saya harap Anda sudah tahu mengenai Bid’ah. Sesuatu hal mengenai peribadatan yang dilakukan tanpa ada tuntunan dari Al-Qur’an dan Hadist.

      Semua yang Anda contohkan adalah Bid’ah, walaupun bacaan dan niatnya adalah baik.

  9. Makhrus Ali berguru pada ulama wahabi Arab Saudi. Pemikiran produk Arab Saudi belum tentu benar, karena wahabi ditegakkan dengan diktator. Ciri-ciri wahabi yang paling menonjol adalah bila berkuasa akan memerintah dengan otoriter/diktator, tetapi bila gagal berkuasa akan menebar teror, atau setidak-tidaknya mengisolir jamaahnya (eksklusif) dan merasa paling benar serta menganggap sesat/kafir kaum muslim diluar golongannya.

    • klo ga tau wahabi jangan komentar ilmu itu harus ada sebelum berkata dan berbuat !!!!!

    • Iya, NU juga belum tentu benar. Sayangnya –setahu saya– Saudi itu diktator sekali dalam memerintah dirinya sendiri biar umat ini paham tauhid. Tuh buktinya jamaah haji dikasih buku-buku tauhid gratis… Alhamdulillah.

      Kutip: “…dan merasa paling benar serta menganggap sesat/kafir kaum muslim diluar golongannya…”

      Anda sendiri merasa benar. Apa buktinya mereka mengkafirkan luar golongan? Kalau mengkafirkan kaum musyrikin penyembah Yesus atau wali-wali, itu memang sudah seharusnya…

    • @Fitianus S: mohon,, pada kalimat “merasa paling benar serta menganggap sesat/kafir kaum muslim diluar golongannya.” tolong pada kata kafir tidak di ucap untuk sesama muslim,, krn para ulama2 salaf tidak pernah mengkafirkan seorang muslim..

  10. mengapa harus pakai embel2 “mantan kyai NU”, kenapa tidak cukup H.Mahrus Ali saja. jawabanya sebab klo tidak pakai embel2 “mantan kyai NU” bukunya gak bakalan laku… ini masalah strategi marketing saja kawan, semakin orang NU marah semakin terkenallah sang penulis.

    • jika kamu mengikuti mayoritas manusia niscaya mereka akan menyesatkan dari jalan Allah terus pak kyai tegakkan dan sampaikan yg benar walau celaan rintangan menghadang anda kyai yang sesungguhnya bukan palsu

  11. hanya orang2 yang sempit pemikirannya islam di artikan dengan artian yang sempit padahal islam adalah rahmatan lil alamin ….. mahrus ali tak layak di panggil ustad atau sederajat karena wawasannya sangat sempit

    • Siapakah yang wawasannya sempit, Mahrus Ali atau kamu? Tolonglah tunjukkan buktimu. Bantahlah buku Mahrus Ali satu saja. Bantahnya yang jujur dan benar menurut Al-Qur’an. Tolong jangan bantah pakai emosi atau kedustaan, bahaya, nambah-nambahi dosa.

      Terimalah kebenaran meskipun itu akan berlawanan dengan ajaran golongan. Semoga Allah merahmati kamu, memberi kamu hidayah, menunjuki kamu jalan yang lurus, dan mempertemukan aku dengan kamu di surga. Janganlah mudah marah.

  12. saya tinggal hampir 12 tahun berdekatan lingkungan orang bali (hindu), kok baru tahu ada ajaran peringatan kematian 1,2, 3,7, 100 dst. atau orang Hindu yang sekarang ini pada murtad dari ajarannya ya????? soalnya yang saya tahu peringatan kematian hanya ada di adat jawa di bali/hindu malah nggak pernah sy jumpai. kalau boleh tahu sumber tertulis pernyataan tsb dari mana?

  13. insya allah sy juga ahli dzikir, tetapi tidak harus berjamaah. karena dzikir yang sebenarnya harus dilugaskan dalam hati kemudian diterjemahkan dalam perbuatan. tidak hanya sekedar ucapan saja. tentulah jika semua hal yang dianggap bid ‘ah itu baik tentu rasulullah telah mengajarkannya. trims

  14. AssWrWb
    Dalam buku peninggalan sejarah Islam di Jawa yg tersimpan di Museum Leiden al tertulis dialog antara Sunan Ampel dan Sunan Kalijogo kurang lebih isinya: Ketika diingatkan Sunan Ampel akan bahaya bid’ah Tahlillan dan tingkeban (upacara tujuh bulan kehamilan) yg sdh terlanjur dimaklumkan dlm kondisi transisi dari masyarakat yg beragama Hindu ke Islam Sunan Kalijogo pun taksamggup melarangnya shg beliau jawab “Biarlah generasi berikut yg menghilangkan budaya tersebut”.Lambat-laun seiring dg perjalanan waktu kembang menyan pun ditinggalkan bahkan taksedikit yg meninggalkan smskl tradisi tersebut walau dg resiko yg taknyaman baik thd tetangga ataupun sanak-famili, namun lantaran ingin memperbaiki diri dari sgl amalan yg bisa membatalkan pahala bak krn riya’ ataupun unsur lain spt pemborosan dan takut bid’ah shg berdampak amalnya ditolak bahkan ancaman neraka apalagi yg mengajarkannya maka sdh seharusnya sesama muslim apalagi yg sdh bukan lagi hidup pada masa transisi spt pada jaman Sunan Kalijogo menjadi kuajiban untuk mengingatkan sesama Muslim dg cara kasih-sayang untuk meluruskan amalan yg tdk sesuai tuntunan Al Qur’an dan Hadits Sohih yg memang tdk dicontohkan Rosulullah SAW. Kalau jujur barangkali semua kita pernah melakukan amalan yg bermula dari ketidaktahuan, sekadar ikut-ikutan, apalagi didukung kata guru yg seharusnya bisa digugu dan ditiru namun lambat-laun jadi amalan yg mentradisi.Kita tdk tahu kapan ajal menjemput, lbh baik bertobat dan memperbaiki amalan krn Allah Maha Pengampun. Tolonglah para Ustad dan Ustajah janganlah buat pembenaran yg brpotensi menyesatkan umat.Kasihanilah semua kita, Jujur Katakan yg benar-benar, yg salah-salah jangan karena hawa nafsu hingga takut akan makhluk selain Allah SWT ….Mksh WassWrWB

  15. mas ustadz, kenapa kita selalu berpikir sempit saling menjelekkan suatu golongan (kaum) yang mungkin kita sendiri tidak lebih baik. kenapa kita malah kurang bahkan tidak peduli misalnya ada gerakan kristenisasi yang ada di malang selatan. hasilnya ada satu desa yang penduduknya sebelumnya 100% islam sekarang tinggal 1 keluarga yang islam (itupun KTP nya kristen). pertanyaan saya, hal konkrit apa yang telah anda lakukan terhadap gerakan tersebut. bukan malah eker-ekeran yang belum jelas siapa benar dan siapa salah di hadapan Allah swt. MAAF dan trims

    • Ya karena meremehkan hal kecil maka akan terjadilah keburukan yang besar. Bid’ah itu bahaya dan mesti dijelaskan. Bukan masalah ini golongan si anu ini si uni, tapi masalahnya umat akan kena dampak buruk kalau bid’ah tetap dibiarkan/tidak dijelaskan.

      Apa yang Anda maksud berpikir sempit? Siapakah yang menjelekkan? Apakah keliru kalau teman saya menjelaskan suatu kekeliruan di PR yang saya bikin sebelum dikumpulkan ke guru? Apa bukannya saya mesti berterima kasih? Kalau enggak ya, berarti saya nggak tahu malu dan nggak tahu terima kasih… Maka terimalah kebenaran meski itu bertentangan dengan ajaran golongan.

      Lha terus apa masalah yang menimpa kaum muslimin apa cuma Kristenisasi? Saya kira banyak sekali lainnya dan masing-masing butuh ahli sendiri-sendiri. Pak Mahrus ini melakukan peringatan terhadap umat sesuai apa yang ia bidangi (ke-NU-an) dan menangani Kristenisasi tak seperti memanggang roti, butuh keahlian. Semoga umat Islam segera meninggalkan bid’ah dan bersatu memerangi musuh-musuh Islam termasuk gerakan Kristenisasi.

      Semoga Allah merahmati Anda, melindungi Anda, dan menunjuki Anda jalan yang lurus. Semoga Allah mempertemukan kita berdua di surga kelak.

    • akhi, bukannya menyudutkan tapi itu semua adalah kennyataan rosulullah bersabda bahwa segala macam bidah itu tempatnya di neraka

    • Apa tidak keliru? Orang-orang yang disebut “Wahhabi” justru yang paling banyak disudutkan. Kalau mau bicara sudut-sudutan, Linux juga banyak disudutkan. Semoga ulama NU sabar dalam menerima kebenaran dan konsisten memugar NU dari bid’ah.

      Semoga Anda dan saya dilepaskan oleh Allah dari ta’ashub dan takabbur. Semoga Anda dirahmati oleh Allah dan diampuni olehNya. Semoga kita berjumpa di surga sana.

    • begini akhi, apa akhi pernah membaca siroh nabawi yang menjelaskan bahwa rosulullah pernah melakukan semua bidah itu? pasti tidak akan ada akhi, bidah itu tertolak bahkan rosulullah bersabda bahwa semua bidah itu tempatnya di neraka bahkan apabila bidah itu di lakukan oleh ulama besar sekalipun jika itu salah maka tidak boleh akhi

  16. yang punya ajaran al muslimu akhil muslim (al hadist)itu perasaan cuma orang NU, nah yang lain kalu dibaca tabloid mereka; seperti; HTI, JI, JATI,MMI,Al-qaeda ya seperti orang NU Ahli bid’ah halal darah dan hartanya,sasarannya mungkin penikut Sufi di turki, pakistan dan banyak negara. tapi gak apa2 kan ya paling jumlah mereka sekitar ratusan juta. ya kalau ada plan menghabisi mereka secara sosial,kultural, politik, budaya,blue print targetnya apa ya?( mungkin secara sosial mengirim pendakwah menguasai masjid NU),membentuk organisasi zakat yang dibungkus rapi agar ga tahu kalu itu untuk dana teror or bikin bom. ya mau gimana keadaan zaman???????

    • kok main perasaan sih ??? agama itu bukan berdasarkan perasaan, apalagi perasaan anda yg belum jls…….

  17. Ini buku menurut saya malah memecah belah, islam mengajarkan saling menghormati perbedaan, ngomong2 soal bid’ah, emang sudah ngerti betul pengertian bid’ah?? Kok sedikit2 di bilang bid’ah, masyaalloh

    • afwan, ini bukan memecah belah,,, mungkin klo kita baca dngan hati yg tidak mementing kn nafsu kita, pasti bukan spt itu konteksnya..
      ini hanya meluruskn apa yg sudah di jalurkn oleh Rasulullah..
      ilmu saya memang sangat sedikit dalam agama, tp saya coba berbagi apa yg telah saya dapatkn..
      masalah bid’ah itu adalah penting dalam agama islam untuk kita beribadah sesuai dngan apa yg diperintahkan oleh Muhammad Rasulullah..
      klau dalam pengertian mungkin akan sangat panjang lebar untuk dijabarkan disini..
      saya akan berbagi sedikit yg saya tahu..
      Bid’ah menurut bahasa, diambil dari bida’ yaitu mengadakan sesuatu tanpa ada contoh.

      diriwayatkan oleh Muslim, bahwa Rasulullah bersabda,
      “Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak terdapat padanya perkara kami, maka hal itu tertolak.”

      Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah SAW bersabda (dalam khutbah beliau),
      sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang baru (dibuat-buat dalam agama) dan setiap bid’ah adalah sesat”

      mungkin dari penjelasan diatas udh bisa di pahami…
      mungkin klo blom dapat di pahami saya akan coba menuliskan beberapa artikel tentang bid’ah di lain wktu, n pastinya saya akan bnyak mencari banyak referensi tentang itu krn ilmu saya masih sdikit,, smoga memberi petunjuk…

      • Kasihan ya si Mahrus Ali ini…. dapat duitnya dari buat buku tak berguna… Kalau baca Yasin dan Baca Tahlil diartikan bid;ah…. mau masuk neraka lapis berapa…?

        Ibn Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa:
        وسئل: عن رجل ينكر على أهل الذكر يقول لهم: هذا الذكر بدعة وجهركم في الذكر بدعة وهم يفتتحون بالقرآن ويختتمون ثم يدعون للمسلمين الأحياء والأموات ويجمعون التسبيح والتحميد والتهليل والتكبير والحوقلة ويصلون على النبي صلى الله عليه وسلم
        Ibnu Taimiyah ditanya tentang seorang laki-laki yang mengingkari ahli dzikir, dimana ia mengatakan kepada mereka (ahli dzikir) “Ini dzikir bid’ah dan menyaringkan suara didalam dzikir kalian juga bid’ah”. Mereka (ahli dzikir) memulai dan menutup dzikirnya dengan membaca al-Qur’an, kemudian mereka berdo’a untuk kaum muslimin yang hidup maupun yang sudah wafat, mereka mengumpulkan antara bacaan tasybih, tahmid, tahlil, takbir, hawqalah (Laa Hawla wa Laa Quwwata Ilaa Billah), mereka juga bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam..
        فأجاب: الاجتماع لذكر الله واستماع كتابه والدعاء عمل صالح وهو من أفضل القربات والعبادات في الأوقات ففي الصحيح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: {إن لله ملائكة سياحين في الأرض فإذا مروا بقوم يذكرون الله تنادوا هلموا إلى حاجتكم} وذكر الحديث وفيه {وجدناهم يسبحونك ويحمدونك} لكن ينبغي أن يكون هذا أحيانا في بعض الأوقات والأمكنة فلا يجعل سنة راتبة يحافظ عليها إلا ما سن رسول الله صلى الله عليه وسلم المداومة عليه في الجماعات من الصلوات الخمس في الجماعات ومن الجمعات والأعياد ونحو ذلك. وأما محافظة الإنسان على أوراد له من الصلاة أو القراءة أو الذكر أو الدعاء طرفي النهار وزلفا من الليل وغير ذلك: فهذا سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم والصالحين من عباد الله قديما وحديثا
        Jawab: Berkumpul untuk dzikir kepada Allah, mendengarkan Kitabullah dan do’a merupakan amal shalih, dan itu termasuk dari paling utamanya qurubat (amal mendekatkan diri kepada Allah) dan paling utamanya ibadah-ibadah pada setiap waktu, didalam hadits Shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang selalu bepergian di bumi, ketika mereka melewati sebuah kaum (perkumpulan) yang berdzikir kepada Allah, mereka (para malaikat) berseru : “Silahkan sampaikan hajat kalian”. Dan disebutkan di dalam hadits tersebut, terdapat redaksi “Dan kami menemukan mereka bertasbih kepada-Mu dan bertahmid memuji-Mu”, akan tetapi selayaknya hal ini di hidupkan kapan saja dan dimana saja, tidak dijadikan sebagai sunnah ratibah yang dirutinkan kecuali apa yang disunnahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berketerusan dalam jama’ah seperti shalat 5 waktu (dilakukan) dalam jama’ah, hari raya dan semisalnya. Adapun umat Islam memelihara rutinitas wirid-wirid baginya seperti shalawat atau membaca al-Qur’an, atau mengingat Allah atau do’a pada seluruh siang dan sebagian malam atau pada waktu lainnya, maka hal ini merupakan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang shalih dari hamba-hamba Allah sebelumnya dan sekarang. (Majmu’ al-Fatawa [22/520-521])

    • Wah, nggak bisa, Saudaraku. Perpecahan itu harus ada antara sunnah dan bid’ah, jadi kalau ada salah ya mestinya ada yang mengoreksi. Islam harus bersatu tapi tidak di atas bid’ah.

      Sedikit-sedikit bilang bid’ah? Terus mau bilang apa lagi kalau masyarakatnya belum ngerti bid’ah tapi banyak sekali perbuatan bid’ah? Maka terimalah kebenaran.

      Semoga Allah merahmati engkau.

  18. YG JLS DI INDONESIA KRN MMG SDH TDK BS DI PUNGKIRI PERPENDUDUK MAJEMUK,SMENTARA INDONESIA SDG MENEGAKKAN DEMOKRASI MAKA SBAIK-Y SBG WARGA NEGARA YG BAIK QT HRS SLG MENGHORMATI PERBEDAAN PENDPT,KEYAQINAN DAN BHKN AGAMA,KRN HAL INI DI LINDUNGI UNDANG2,JD GA BS SLG MEMAKSAKAN DEMI KEINGINAN PRIBADI,MALAH BS BERBAHAYA DPT MERUSAK TATANAN KERUKUNAN SESAMA UMAT BERAGAMA

  19. memang sekarang ini banyak ikhwan kita yang meyakini dan mempercayai bid’ah2 yang tidak ada tuntunan sama sekali dari rasulullah, padahal semua itu berbahaya sekali buat aqidah kita sebagai muslim

    • Misalnya ketika mengadakan kegiatan tradisi tahlilan yang telah menjadi kebiasaan di masyarakat Muslim maka sesungguhnya mereka telah membiasakan diri dengan sunnah-sunnah sebagai berikut :
      1. Masyarakat berkumpul dalam sebuah majelis dzikir, perhatikan bukankah ini memang sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ?. Banyak hadits yang masyhur tentang hal ini, misalnya :
      أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الجَنَّةِ؟ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ
      “Sesungguhnya Nabi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : apabila kalian berjalan ke taman surga maka bergabunglah kalian”, para sahabat bertanya : “apa itu taman surga (riyadlul jannah) ?”, Nabi menjawab : “Perkumpulan dzikir”. (Sunan at-Turmidzi no. 3510 ; hadits ini dinilai hasan)
      لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
      “Tidaklah sekelompok orang berkumpul dan berdzikir kepada Allah kecuali mereka dikelilingi oleh para Malaikat, diliputi rahmat, diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah sebut mereka di kalangan para Malaikat yang mulia”. (Shahih Muslim no. 2700 ; Musnad Ahmad no. 11875)
      مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوا يَذْكُرُونَ اللهَ، لَا يُرِيدُونَ بِذَلِكَ إِلَّا وَجْهَهُ، إِلَّا نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: أَنْ قُومُوا مَغْفُورًا لَكُمْ، قَدْ بُدِّلَتْ سَيِّئَاتُكُمْ حَسَنَاتٍ
      “Tidaklah sebuah kaum berkumpul berdzikir kepada Allah, karena mereka tiada menginginkan dengan hal itu kecuali keridlaan Allah, maka malaikat akan menyeru dari langit, bahwa berdirilah kalian dengan pengampunan bagi kalian, sungguh keburukan kalian telah digantikan dengan kebaikan”. (Musnad Ahmad no. 12453)
      Dan mengenai dalil-dalil dzikir berjama’ah ini ada pembahasan tersendiri yang diambil dari kitab al-Haawi li al-Fatawi sub Bab Natijat al-Fikr fi al-Jahr fi adz-Dzikr karya al-Imaam Jalaluddin as-Suyuthi rahimahullaah, silakan baca di link http://jundumuhammad.wordpress.com/2011/07/17/dalil-dalil-diperbolehkannya-berdzikir-secara-jahr-dan-secara-berjamaah/
      2. Membaca al-Qur’an
      Membaca al-Qur’an merupakan amaliyah yang dapat dibaca kapan saja juga termasuk daripada dzikir, dan inilah yang juga dibiasakan dibaca ketika tradisi tahlilan. Masyarakat digiring untuk bersama-sama membaca al-Qur’an, lebih itu masyarakat juga diajarkan kepedulian terhadap yang meninggal dengan menghadiahkan pahalanya kepada orang mati. Hal ini, disamping di tuntut keikhlasan dari yang membaca, juga bagi yang mengajaknya terdapat pahala tersendiri, sebab tiada yang sia-sia ketika mengajak kepada kebaikan.
      Surah-surah yang dibaca adalah surah-surah yang memang mudah untuk dibaca oleh masyarakat awam sekalipun sehingga tidak memberatkan atau memudahkan mereka. Misalnya membaca beberapa ayat pada surah al-Baqarah, al-Ikhlas, an-Naas, al-Falaq, Yasiin, dan lain sebagainya. Semua ayat-ayat ini mudah dibaca, sedangkan Allah berfirman :
      فَاقْرَؤُا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ
      “Maka bacalah oleh kalian apa yang mudah dari al-Qur’an” (QS. Al-Muzammil : 20)
      Disamping itu banyak fadlilah di dalam membaca al-Qur’an, diantaranya sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan :
      اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ، اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ، وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ
      “Bacalah oleh kalian al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat kepada pembaca-pembacanya. Bacalah oleh kalian Az-Zahrawayn yakni Surah al-Baqarah dan surah Ali Imran, karena sungguh keduanya akan datang pada hari Qiamat laksana dua gumpalan awan atau laksana dua cahaya yang menyinari atau laknna dua kelompok burung yang (saling) membentangnya sayapnya dimana akan menjadi pembela bagi pembaca keduanya, bacalah surah al-Baqarah karena mengambilnya merupakan keberkahan, dan meninggalkannya mendapat penyesalan, sedangkan para tukang sihir tidak akan mempan dengannya”. (Shahih Muslim no. 804)
      Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
      مثل المؤمن الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ: كَالأُتْرُجَّةِ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ، وَالمُؤْمِنُ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ، وَيَعْمَلُ بِهِ: كَالتَّمْرَةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ: كَالرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ: كَالحَنْظَلَةِ، طَعْمُهَا مُرٌّ – أَوْ خَبِيثٌ – وَرِيحُهَا مُرٌّ
      “Perumpamaan orang yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan al-Qur’an, seperti buah Utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak beraroma. Orang munafik yang membaca al-Qur’an adalah bagaikan royhanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Dan orang munafik yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan hanzholah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak”. (Shahih Bukhari no. 5059 & 5427 ; Shahih Muslim no. 797 ; Sunan At-Turmidzi no. 2865)
      Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
      يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ إِذَا دَخَلَ الْجَنَّةَ اقْرَأْ وَاصْعَدْ، فَيَقْرَأُ وَيَصْعَدُ بِكُلِّ آيَةٍ دَرَجَةً حَتَّى يَقْرَأَ آخِرَ شَيْءٍ مَعَهُ
      “Kelak akan dikatakan kepada shahibul Qur’an (pembaca al-Qur’an) ketika memasuki surga, bacalah kemudian naiklah (derajat), maka kemudian ia membacanya dan naiklah derajatnya dengan tiap-tiap ayat hingga sampai ayat terakhir yang ia baca” (Sunan Ibnu Majah no. 3780, hadits ini shahih)
      Selain banyaknya fadlilah berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diatas, juga masing-masing surah dalam al-Qur’an memiliki fadliyah tertentu, seperti surah al-Fatihah yang juga dibaca pada kegiatan tahlilan, dimana diantara fadlilahnya adalah :
      قُلْتُ لَهُ: «أَلَمْ تَقُلْ لَأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِيَ أَعْظَمُ سُورَةٍ فِي القُرْآنِ ، قَالَ: الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ المَثَانِي، وَالقُرْآنُ العَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ
      “Aku (Abu Sa’ad al-Mu’alla) bertanya (kembali) kepada Rasulullah : “bukankah tadi engkau berkata : aku akan mengajarkan kamu surah yang paling agung didalam al-Qur’an ?, Rasulullah bersabda : “al-Hamdulillahi Rabbil ‘alamiin (al-Fatihah), ia adalah As-Sab’u al-Matsani dan al-Qur’an yang agung yang telah diberikan”. (Shahih Bukhari no. 4474)
      Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
      قَالَ: ” أَلَا أُخْبِرُكَ يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ جَابِرٍ بِخَيْرِ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ؟ ” قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: ” اقْرَأِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ حَتَّى تَخْتِمَهَا
      “Maukah engkau aku khabarkan wahai Abdullah bin Jabir tentang surah yang paling bagus didalam al-Qur’an?, aku (Jabir) berkata : “Iya wahai Rasulullah”, kemudian Rasulullah bersada : “Bacalah al-Hamdulillahi rabbil ‘alamiin hingga selesai (al-Fatihah)”. (Musnad Ahmad no. 17597)
      Kemudian juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang juga terkait dengan surah al-Baqarah :
      عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: بَيْنَمَا جِبْرِيلُ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ، فَرَفَعَ رَأْسَهُ، فَقَالَ: ” هَذَا بَابٌ مِنَ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ، فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ، فَقَالَ: هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ، فَسَلَّمَ، وَقَالَ: أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ: فَاتِحَةُ الْكِتَابِ، وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيتَهُ
      “dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : “ketika Jibril duduk di samping Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mendengar suara dari atasnya, seraya mengangkat kepalanya, kemudian berkata : “Pintu ini berasal dari langit yang dibuka pada hari ini yang belum pernah di buka kecuali hari ini, kemudian seorang malaikat turun dari pintu itu, dan berkata Jibaril : “malaikat ini turun ke bumi yang tidak pernah turun kecuali hari ini, maka mengucapkan salam dan berkata : “bergemberilah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu yang tidak pernah diberikan kepada Nabi sebelum engkau, yakni Fatihatul Kitab (al-Fatihah) dan ayat-ayat penutup surah al-Baqarah, tidaklah engkau membaca satu huruf dari kedua surah tersebut kecuali engkau akan diberi karunia” . (Shahih Muslim no. 806)
      Sebagaimana diketahui bahwa akhir surah al-Baqarah adalah ayat-ayat yang dibaca ketika tahlilan. Disamping itu juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa setan meninggalkan rumah yang dibacakan surah al-Baqarah :
      لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
      “janganlah jadikan rumah kalian sebagai kuburan, karena sesungguhnya syaithan meninggalkan rumah yang dibacakan didalam surah al-Baqarah” (Shahih Muslim no. 780)
      لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، وَإِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي يُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ، لَا يَدْخُلُهُ الشَّيْطَانُ
      “Sesungguhnya rumah yang dibacakan didalam surah al-Baqarah, niscaya tidak akan dimasuki oleh syaithan” (Musnad Ahmad no. 8914)
      Ayat Kursiy juga merupakan ayat al-Qur’an yang dibaca ketika tahlilan :
      قَالَ: يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ: قُلْتُ: اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ . قَالَ: فَضَرَبَ فِي صَدْرِي، وَقَالَ: وَاللهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ
      “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “wahai Abul Mundzir, tahukah engkau sebuah ayat dari Kitabullah (al-Qur’an) yang paling agung ?, Abul Munzir berkata : “aku berkata : Allahu Laa Ilaaha Illaa Huwal Hayyum Qayyum (al-Baqarah : 255)”, kemudian Rasulullah menepuk pundakku”, dan beliau bersabda : “semoga Allah mempermudahkan ilmu bagimu wahai Abul Mundzir”. (Shahih Muslim no. 810 ; Sunan Abi Daud no. 1460)
      Di dalam Tahlilan juga dibaca surah al-Ikhlas, al-Falaq, an-Nas :
      قَالُوا: وَكَيْفَ يَقْرَأْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ؟ قَالَ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
      “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : tidakkah salah satu dari kalian mampu membaca pada malam hari seperti tiga al-Qur’an ? sahabat berkata : bagaimana membaca sepertiga al-Qur’an ? Rasulullah menjawab: “Qul Huwallahu Ahad (al-Ikhlas) setara dengan sepertiga al-Qur’an.” (Shahih Muslim no. 811)
      عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: أَقْبَلْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَجَبَتْ . قُلْتُ: مَا وَجَبَتْ؟ قَالَ: الجَنَّةُ
      “Dari Abu Hurairah, ia berkata : aku datang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian mendengar seorang laki-laki membaca Qul Huwallahu Ahad (surah al-Ikhlas), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “wajib”, aku berkata ; “wajib apa ?”, Rasulullah bersabda : “Surga”. (Sunan At-Turmidzi no. 2897, Hadits hasan shahih)
      عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ قَالَ: بَيْنَا أَنَا أَقُودُ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاحِلَتَهُ فِي غَزْوَةٍ إِذْ قَالَ: «يَا عُقْبَةُ، قُلْ فَاسْتَمَعْتُ» ، ثُمَّ قَالَ: «يَا عُقْبَةُ، قُلْ فَاسْتَمَعْتُ» ، فَقَالَهَا الثَّالِثَةَ، فَقُلْتُ: مَا أَقُولُ؟، فَقَالَ: «قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ» فَقَرَأَ السُّورَةَ حَتَّى خَتَمَهَا، ثُمَّ قَرَأَ: «قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ» وَقَرَأْتُ مَعَهُ حَتَّى خَتَمَهَا، ثُمَّ قَرَأَ «قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ» فَقَرَأْتُ مَعَهُ حَتَّى خَتَمَهَا، ثُمَّ قَالَ: «مَا تَعَوَّذَ بِمِثْلِهِنَّ أَحَدٌ»
      “Dari Uqbah bin Amir al-Juhani, ia berkata : ketika aku menuntun kendaraan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah peperangan, tiba-tiba beliau berkata: “Wahai Uqbah, ucapkanlah,” aku pun mendengarkan, kemudian beliau berkata (lagi): “Wahai Uqbah, ucapkanlah,” aku pun mendengarkan. Dan beliau mengatakannya sampai tiga kali, lalu aku bertanya: “Apa yang aku ucapkan ?” Beliau pun bersabda : “Ucapkanlah Qul Huwallahu Ahad (al-Ikhlas), kemudian membacanya sampai akhir , kemudian membaca Qul A’udzu bi-Rabill Falaq (al-Falaq), , kemudian membacanya sampai akhir, kemudian membacanya Qul A’udzu bi-Rabbin Naas (an-Naas), kemudian aku membacanya sampai selesai, kemudian beliau bersabda : “tidak ada seorang pun yang berlindung seumpama orang yang berlindung dengannya”. (Sunan an-Nasaa’i no. 5430 , hadits ini shahih)
      Dan masih banyak lagi bacaan-bacaan yang terkait al-Qur’an yakni surah al-Qur’an ataupun ayat al-Qur’an yang ada pada tahlilan dimana masing-masing memiliki keutamaan tersendiri. Tentunya tidak mungkin disebutkan dalam tulisan singkat ini.
      3. Membaca Shalawat
      Membaca shalawat sangat dianjurkan, apalagi pada sebuah majelis dzikir seperti tahlilan, dan banyaknya fadhilah yang terkandung didalamnya, seperti misalnya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
      مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ، وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ
      “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali niscaya Allah bershalawat kepadanya 10 kali, digugurkan sepuluh kesalahan-kesalahannya, dan di angkat sebanyak 10 derajat baginya” (Sunan an-Nasaa’i no. 1297, shahih)
      مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا ثُمَّ تَفَرَّقُوا عَنْ غَيْرِ صَلَاةٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا تَفَرَّقُوا عَلَى أَنْتَنِ مِنْ رِيحِ الْجِيفَةِ
      “Tidaklah duduk sebuah kaum kemudian mereka perpisah tanpa bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali mereka berpisah membawa yang lebih buruk dari bangkai” (As-Sunan al-Kubra an-Nasaai no. 10172 )
      أوْلى النَّاسِ بي يَوْمَ القِيامَةَ أَكْثَرُهُمْ عَليَّ صَلاةً
      Nabi bersabda: “Manusia yang paling utama pada hari qiyamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku”. (Sunan at-Turmidzi no. 484, hadits hasan ; Shahih Ibnu Hibban no. 911)
      لا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيداً وَصَلُّوا عليَّ، فإنَّ صَلاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ
      “Janganlah kalian jadikan kuburku sebagai ‘ied dan bershalawatlah kepadaku, sebab sungguh shalawat kalian sampai kepadaku seketika kalian berada” . (Sunan Abi Daud no. 2042, hadits shahih)
      4. Membaca Do’a.
      Membaca doa sangat dianjurkan, apalagi berdo’a kebaikan untuk saudaranya baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal. Ditambah lagi dilakukan secara bersama-sama maka itu lebih dekat di ijabah. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :
      وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
      “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al-Mu’miin: 60)
      وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
      “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr : 10)
      فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
      “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal” (QS. Muhammad : 19)
      رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
      “Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. (QS. Ibrahim : 41)
      Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
      مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ بِمِثْلٍ
      “Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (Shahih Muslim no. 2732)
      دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
      “Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah doa mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang berdoa) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, “Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu” (Shahih Muslim no. 2733)
      عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ، قَالَ: إِنَّ دَعْوَةَ الْأَخِ فِي اللَّهِ تُسْتَجَابُ
      “Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, ia berkata : sungguh mendo’akan saudaranya karena Allah adalah mustajab” (Al-Jami’ fil Hadits li-Ibni Wahab no. 161 ; Adabul Mufrad [624])
      5. Membaca Dzikir –Dzikir yang lain.
      Dzikir-dzikir lainnya semisal istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan lain sebagainya. Telah banyak tersebar mengenai faidah-faidahnya. Inilah juga yang dibiasakan di dalam tradisi tahlilan, maka betapa banyak faidah yang didapat oleh mereka yang senantiasa membacanya apalagi dilakukan bersama-sama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
      عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الجَنَّةِ
      “Barangsiapa yang mengucapkan : “Subhanallahil ‘Adhim wa Bihamdih” ditanamkan baginya sebatang pohon kurma di surga”. (Sunan at-Turmidzi no. 3464, hadits hasan shahih)
      عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، حُطَّتْ خَطَايَاهُ، وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْرِ
      “Barangsiapa yang mengucapkan “Subhanallah wa bi-Hamdih” didalam sehari sebanyak seratus kali, niscaya dihapus kesalahan-kesalahannya walaupun laksana buih di lautan”. (Shahih Bukhari no. 6405)
      عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي المِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
      “Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “dua kalian yang ringan di lisan (diucapkan), keduanya berat di timbangan dihadapan Yang Maha Penyayang, yakni Subhanallahil ‘Adhim, Subhanallahi wa bi-Hamdihi”. (Shahih Bukhari no. 6406)
      قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي المِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ
      “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “dua kalian yang ringan di lisan (diucapkan), keduanya berat di timbangan serta dicintai oleh Yang Maha Penyayang, yakni Subhanallahi wa bi-Hamdihi, Subhanallaahil ‘Adhim”. (Shahih Bukhari no. 6682 ; Muslim no. 2694)
      عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
      “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : sungguh jika aku mengucapkan Subhanallah wal Hamdulillah wa Laa Ilaaha Illalla wa Allahu Akbar, lebih disukai bagiku daripada disinari oleh terbitnya mentari”. (Shahih Muslim no. 2695 ; Sunan At-Turmidzi no. 3597)
      مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، عَشْرَ مِرَارٍ كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أَرْبَعَةَ أَنْفُسٍ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ
      “Barangsiapa yang mengucapkan : “laa ilaaha ilallaahu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘alaa kullli syay-in qadiir”, sebanyak sepuluh kali maka ia seperti orang yang memerdekakan budak empat jiwa seperti keturunan Nabi Ismail” (Shahih Muslim no. 2693)
      قَالَ يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ: أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ، فَقُلْتُ: بَلَى، يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: ” قُلْ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
      “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, wahai Abdullah bin Qays, mau engkau ku tunjukkan pembendaharaan surga ?, maka aku (Ibnu Qays) berkata : iya wahai Rasulullah”, kemudian Rasulullah berkata : “katakanlah, “Laa Hawla wa Laa Quwwata Ilaa Billaah”. (Shahih Muslim no. 2704)
      عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ؛ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ، فِي الْبَاقِيَاتِ الصَّالِحَاتِ: أَنَّهَا قَوْلُ الْعَبْدِ: اللهُ أَكْبَرُ. وَسُبْحَانَاللهِ. وَالْحَمْدُ للهِ. وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
      “Kalimat-kalimat yang bagus yakni ucapan seorang hamba : “Subhanallah, al-Hamdulillah, laa ilaaha illaa Allah, laa hawla wa laa quwwata ilaa billah”. (Muwatha’ Malik no. 715)
      عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اسْتَكْثِرُوا مِنَ الْبَاقِيَاتِ الصَّالِحَاتِ» قِيلَ: وَمَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الْمِلَّةُ» ، قِيلَ: وَمَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الْمِلَّةُ» ، قِيلَ: وَمَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: التَّكْبِيرُ، وَالتَّهْلِيلُ، وَالتَّسْبِيحُ، وَالتَّحْمِيدُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
      “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : perbanyaklah kalian dengan kalimat-kalimat yang baik, dikatakan “apa itu wahai Rasulullah ?, beliau menjawab “al-Millah”, dikatakan lagi “Apa itu wahai Rasulullah?”, beliau menjawab : “al-Millah”, dikatakan lagi : “Apa itu wahai Rasulullah ?”, beliau menjawab : “Takbir, Tahlil, Tasbih, Tahmid, dan Laa Hawlaa wa laa Qawwata ilaa billaah”. (Musnad Ahmad no. 11713)
      عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ. لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ
      “perkataan yang paling dicintai oleh Allah adalah empat yakni “Subhanallah wal Hamdulillah wa Laa Ilaaha Illallaahu wa Allahu Akbar”, tidak masalah bagimu memulai dari yang mana saja”. (Shahih Muslim no. 2137)
      عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: عَلِّمْنِي كَلَامًا أَقُولُهُ، قَالَ: ” قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ ” قَالَ: فَهَؤُلَاءِ لِرَبِّي، فَمَا لِي؟ قَالَ: قُلْ: اللهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي
      “Dari Mush’ab bin Sa’d, dari ayahnya, ia berkata : Seorang arab datang kepada Rasulullah seraya berkata : “Ajarkanlah kepadaku ucapakan untuk aku baca”, Rasulullah bersabda : katakanlah “laa ilaaha illaLlaah wahdahu laa syariyka lah, Allahu Akbar Kabiiran, wal Hamdulillahi Katsiran, Subhanallahi Rabbil ‘Alamiin, Laa Hawla wa laa Quwwata illaa bil-Laahil ‘Azizil Hakiim”, seorang Arab tersebut berkata : semua itu untuk Rabb-ku, namun mana untukku ?”, Rasullah bersabda : “katakanlah “Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, berilah petunjuk kepadaku dan limpahkanlah rizki kepadaku”. (Shahih Muslim no. 2696)
      أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الحَمْدُ لِلَّهِ
      “Dzikir yang utama adalah Laa ilaaha Ilallahu, sedangkan do’a yang paling utama adalah al-Hamdulillah”. (Sunan at-Turmidzi no. 3383, Hadits hasan)
      6. Mempererat Shilaturahim.
      Disamping mengamalkan berbagai macam bacaan diatas, didalam tahlilan juga sebagai sarana shilaturahim antara kaum muslimin, baik kerabat atau pun tetangga sekitar, sehingga tercipta ikatan yang lebih erat, disamping rasa kepedulian sesama muslimin. Allah subhanahu wa Ta’alaa berfirman :
      وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
      “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain , dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisaa’ : 1)
      وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ
      “Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS Ar-Ra’d : 21).
      مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
      “Barangsiapa yang menginginkan diperluas rizkinya dan dimakmurkan usianya, maka sambunglah shilaturahim” (Shahih Bukhari no. 5986)
      قَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ، وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ
      “Rasulullah bersabda : Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambunglah kasih sayang (lakukanlah shilaturahim), shalatlah dimalam hari dimana manusia sedang tertidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat”. (Sunan Ibni Majah no. 3251, hadits shahih)
      7. Menumbuhkan Persaudaraan Sesama Muslim.
      Dengan senantiasa bershilaturahim apalagi bersama-sama dengan masyarakat muslim, maka akan dengan mudah tercipta persaudaraan di antara kaum muslimin. Hal itu dikarenakan efek dari kebaikan, rasa solidaritas, serta kerelaan seorang muslim untuk mendo’akan saudaranya muslim lainnya, juga shilaturahim yang dilakukan. Berbuat demikian, akan semakin menampakkan rasa persaudaraan sesama Muslim, dimana berulang kali ditegaskan bahwa sesama muslim adalah bersaudara :
      إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
      “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujuraat : 10)
      قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
      “Orang mukmin bagi mukmin lainnya seperti sebuah bangunan dimana sebagiannya menguatkan bagian lainnya” (Shahih Muslim no. 2585)
      قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
      “Perumpamaan orang-orang yang mukmin di dalam hal kasih sayang, rahmat dan kelemah lembutan laksana satu tubuh jika salah satu bagian tubuh merasa sakit maka seluruh tubuh ikut merasakannya dengan panas dan demam”. (Shahih Muslim no. 2586)
      المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
      “Seorang muslim adalah orang yang memberikan rasa selamat kepada muslim lainnya dari lisannya dan tangannya”. (Shahih Bukhari no. 10)
      Dengan menyadari hal ini, maka tidak akan mudah menyakiti sesama muslim dengan berbagai tuduhan-tudahan yang mengiris hati saudaranya.
      8. Sebagai sarana syi’ar Islam
      Tahlilan juga sebagai sarana penyebaran Islam yang sangat ampuh, disamping juga dalam menampakkan syi’ar Islam, sehingga masyarakat muslim terlihat jelas dengan kebiasaan yang ada dilingkungannya. Itulah bentuk ketakwaan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’alaa nyatakan didalam al-Qur’an :
      وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ
      “Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah , maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. al-Hajj : 32)
      9. Shadaqah (menggalakkan shadaqah bagi yang mampu).
      الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
      “(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (QS. an-Anfaal : 3)
      لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ
      “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran : 92)
      وَالصَّلَاةُ نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
      “Shalat adalah nur, shadaqah adalah bukti (burhan), shabar adalah sinar, dan al-Qur’an adalah hujjah bagimu atau terhadapmu”. (Shahih Muslim no. 223)
      Dan perihal tradisi bersedekah untuk mayyit yang terdapat di dalam rentetan kegiatan tahlilan ini ada landasan shohih dari para salaf ash-sholih, lihat pembahasannya di link ini: http://jundumuhammad.wordpress.com/2011/06/07/hukum-selamatan-hari-ke-3-7-40-100-setahun-1000/
      10. Terkait dengan memulyakan tamu
      Dalam rangka memulyakan (menghormati) tamu yang hadir, biasanya tuan rumah menghidangkan beberapa makanan ringan, motivasi seperti ini merupakan anjuran sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
      مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
      “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka mulyakanlah tamunya”. (Shahih Bukhari no. 6018)
      11. Niat baik dan ucapan yang baik
      Tujuan-tujuan melakukan tahlilan tentunya tidak lepas dari niat shalih, baik dari sisi tuan rumah seperti dalam rangka mengajak kaum muslimin untuk mendo’akan saduaranya yang meninggal dunia, menghormati tamu, menshadaqahkan hartanya sendiri yang pahalanya dihadiahkan untuk yang meninggal dan lain sebagainya. Ataupun dari sisi kaum muslimin yang hadir, juga dalam rangka mendo’akan saudaranya yang telah meninggal, memenuhi undangan, menghibur keluarga almarhum dan lain sebagainya. Niat baik inilah yang dinilai serta apa yang diucapkan tidak akan pernah sia-sia, sebagaimana sabda Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam :
      إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
      “Sesungguhnya amal-amal tergantung dengan niatnya” (Shahih Bukhari no. 1)
      إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً
      “Sesungguhnya Allah mencatat kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan, kemudian menjelakan yang demikian, maka barangsiapa yang berkeinginan melakukan kebaikan namun tidak sampai melakukannya niscaya Allah akan mencatatkan untuknya kebaikan yang sempurna, maka jika ia berkeinginan dengannya kemudian melakukannya niscaya Allah akan mencatatkan untuknya sepuluh macam kebaikan sampai 700 kali lipat kemudian hingga berlipat-lipat yang banyak ; barangsiapa yang berkeinginan melakukan keburukan namun ia tidak mengerjakannya niscaya Allah mencatatkan untuknya kebaikan yang sempurna, namun jika ia mengerjakannya niscaya Allah mencatatkan untuknya satu macam keburukan”. (Shahih Bukhari no. 6491)
      مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
      “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. al-Qaaf : 18)
      مَن كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعاً إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
      “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya” (QS. al-Fathir : 10)
      Demikianlah sunnah-sunnah yang terdapat dalam tradisi tahlilan yang sudah umum berkembang di Nusantara, jadi tidak tepat kalau dikatakan tahlilan itu tidak ada dalilnya dari al-Quran dan as-Sunnah.
      Kemudian apabila dikatakan: “Bahwa tradisi tahlilan dan selamatan tujuh hari itu mengadopsi dari orang-orang Hindu. Sudah jelas kita tidak boleh meniru-niru orang Hindu.”
      Pernyataan seperti ini tentu saja tidak wajar. Ada perbedaan antara tradisi Hindu dengan Tahlilan. Dalam tradisi Hindu, selama tujuh hari dari kematian, biasanya diadakan ritual selamatan dengan hidangan makanan yang diberikan kepada para pengunjung, disertai dengan acara sabung ayam, permainan judi, minuman keras dan kemungkaran lainnya.
      Sedangkan dalam tahlilan, tradisi kemungkaran seperti itu jelas tidak ada. Dalam tradisi Tahlilan, diisi dengan bacaan al-Qur’an, dzikir bersama kepada Allah Ta’aala serta sedekah yang pahalanya dihadiahkan kepada mayit. Jadi, antara kedua tradisi tersebut jelas berbeda.
      Dalam acara tahlilan selama tujuh hari kematian, kaum Muslimin berdzikir kepada Allah, ketika pada hari tersebut orang Hindu melakukan sekian banyak kemungkaran. Betapa indah dan mulianya tradisi tahlilan itu. Dan seandainya
      tasyabuh dengan orang Hindu dalam selamatan tujuh hari tersebut dipersoalkan, Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam telah mengajarkan kita cara menghilangkan tasyabuh (menyerupai orang-orang ahlul kitab) yang dimakruhkan dalam agama, dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda:
      Ibn ‘Abbas radhiyallaah ‘anhu berkata: “Setelah Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan kaum Muslimin juga berpuasa, mereka berkata: “Wahai Rasulullah, hari Asyura itu diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.” Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam menjawab: “Kalau begitu, tahun depan, kita berpuasa pula tanggal sembilan.” Ibn Abbas berkata: ‘Tahun depan belum sampai ternyata Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam telah wafat” (HR. Muslim dan Abu Dawud).
      Dalam hadits di atas, para sahabat menyangsikan perintah puasa pada hari Asyura, di mana hari tersebut juga diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Sementara Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam telah menganjurkan umatnya agar selalu menyelisihi (mukhalafah) orang-orang Yahudi dan Nasrani. Temyata Rasulullah memberikan petunjuk, cara menyelisihi mereka, yaitu dengan berpuasa sejak sehari sebelum Asyura, yang disebut dengan Tasu’a’, sehingga tasyabbuh tersebut menjadi hilang.
      Kemudian apabila dikatakan: “Orang yang bertaqlid kepada Imam Syafi’i yang membagi bid’ah menjadi 2, mengapa tidak juga bertaqlid kepada beliau dalam membenci selamatan kematian? Imam Syafi’i berkata dalam kitabnya Al-Umm, “Aku tidak suka ma’tam yaitu berkumpul (di rumah keluarga mayat-pen) meskipun di situ tiada tangisan karena hal tersebut malah akan menimbulkan kesedihan.”( Al-Umm oleh Imam Syafi’i : juz 1; hal 248) “
      Maka, perkataan tersebut adalah dusta atas nama al-Imaam asy-Syafi’i rahimahullaah. Mari kita lihat teksnya dari kitab al-Umm:
      أكره المأتم، وهي الجماعة، وإن لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن، ويكلف المؤنة مع ما مضى فيه من الأثر
      Artinya:
      “Aku menghukumi makruh Ma’tam, yakni sebuah kelompok, yang walaupun tidak ada tangisan bagi mereka, sebab sesungguhnya hal itu akan memperbaharui kesedihan dan membebani biaya beserta apa yang pernah terjadi”.
      Beliau berkata demikian dalam konteks ilmu fiqh. Kalimah أكره tidak diartikan benci/tidak suka apalagi haram. Dan kalimah أكره tersebut artinya adalah “Aku menghukumi makruh”.
      Kita bahas ma’tam terlebih dahulu, makna ma’tam secara lughawi diambil dari kata atama – ya’timu, artinya adalah “dikumpulkannya dua buah perkara”. Sedang yang dimaksud ma’tam dalam konteks pendapat imam asy-Syafi’i ini adalah setiap berkumpulnya dari laki-laki atau perempuan kepada keluarga yang ditinggal wafat sehingga ditakutkan terjadi ratapan atas yang wafat.
      Selanjutnya Imam asy-Syafi’i menghukumi makruh atas ‘illat yang beliau sebutkan sendiri yaitu:
      يجدد الحزن، ويكلف المؤنة
      Artinya: “Memperbaharui kesedihan, dan membebani biaya “.
      Sehingga apabila tidak ada ‘illat ini maka hukum makruh itu juga tidak ada, sebab di dalam salah satu kaidah ushul fiqh disebutkan: “al-’Illatu tadillu ‘alaa al-Hukmi” maknanya ‘illat itu menunjukkan atas hukum.
      Itu artinya jika berkumpulnya manusia kepada keluarga yang ditinggal wafat tidak menyebabkan “يجدد الحزن، ويكلف المؤنة “, maka hal yang demikian (berkumpulnya manusia) tersebut tidak dihukumi makruh.
      Jadi tidak benar kalau al-Imaam asy-Syafi’i rahimahullaah membenci bahkan mengharamkan ma’tam.
      Wallaahu a’lam.

      • Al-Qur’an bukan hanya untuk di baca akan tetapi Alloh memerintahkan pada orang-orang yg berIman agar menTaddaburi(memahami)setiap ayat-ayatnya,krn tanpa kita memahami Al-qur’an tdk mungkin kita akan bisa yakin/Iman,kalau kita tdk Iman tdk mungkin kita akan Mau mengamalkannya(amal sholih),amal yg bmenurut petunjuk Alloh(Al-Qur’an) dn Menurut Sunnah Rosululloh saw(Al-Hadist shohih),ciri-ciri Hadist Shohih tdk akan pernah bertentangan dengan Isi Al-Qur’an.Sudahkah kita berusaha mengamalkan Al-Qur’an dn Sunnah Rosululloh saw?LANAA A’MALUNAA WALAKUM A’MALAKUM….JAGA UKHUWAH ISLAMIYAH walau berbeda pemahaman dan amal-amal FURU’IYAH.krn orang-orang YAHUDI DAN NASRANI tdk akan rela kalau UMAT ISLAM RUKUN DAN BERSATU!MARI KITA RENUNGKAN BERSAMA!

      • Adakah di Indonesia ini orang yg AMAH? Adakah di indopnesia ini orang yg JUJUR? Adakah diindonesia ini orang yg Lebih mementingkan Islam diatas Segalanya?kalau mementingkan Partai,Golongan dll Banyak.Mari kita berusaha memulainya dari diri Kita,keluarga dan seterusnya…

      • Seandainya umat ini bisa Baik tanpa Al-Qur’an maka Alloh tdk akan menurunkan Al-Qur’an sebagai PETUNJUK bagi Semua Umat Manusia,Al-Qur’an bukan saja petunjuk buat umat Islam akan tetapi HUDALLINNAS…

      • Tidak Berlebihan Rosululloh Bersabda:Agar kita Berpegang kepada 2 perkara Agar Kita tdk SESAT Selamanya,Apakah 2 perkara tersebut?yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah saw,karena kita sekarang sudah masuk pada Jaman yg serba SAMAR dan Jauh dari Tuntunan Alloh dan Contoh Rosululloh saw.Benar atau tdk mari Kita Renungkan BERSAMA!dan Banyak Umat yg Mengaku Islam akan Tetapi Cara BerIbadahnya Hanya Taqlid kepada orang-orang yg di anggap Alim,mengeti dn pandai.padahal Alloh telah berfirman dalm surat Ali Imron 32,kalau kita benar-benar Cinta pada Alloh kita di perintahkn mengikuti NABI Muhammad saw(ittiba’)bukan mengikuti selainnya,krn Nabi Muhammad saw sebagai Uswah Hasanah bagi Kita,dan orang yg terjaga dari dosa,Adakah orang yg Terjaga dari DOSA selain Nabi Muhammad saw?Mari Kita Renungkan BERSAMA!

      • Ahlul Bid’ah@Pas sesuai namamu!…membela Bid’ah dengan dalil-dalilyang sama sekali tidak mendasar/dengan dalil umum sebagai bantahan dan membela kebid’ahanya.kasihan antum diketawakan sama para Ustadz!sepintas kelihat ilmiah,sayang antum membawa dalil shahih namun salah penerapan Bung…!lah wong peci kok di pakai di kaki ya salah to mas!!!…

  20. memangberat bagi orang yang menyuarai kebenaran, tatkala kebenaran beserta dalilnya sudah di sodorkan , namun panatiknya lebih menguasai hawa napsunya.. semoga pak kiyai di atas di tolong oleh Allah swt..

  21. Assalamu’Alaikum Wr Wb.

    Yang perlu diluruskan adalah , Biang kerok yang menyusun dan memberikan JUDUL pada Buku “Mantan Kyai NU menggugat Tahlilan, Istighasahan dan Ziarah para Wali” karya KH. Makhrus Ali)

    Dan sampai sekarang tidak ada penyelesaiannya. wassalam.

    • itu bukan hal yg paling penting yg perlu di besar-besarkan yg jelas kita boleh setuju juga boleh menolak akan tetapi hal yg terpenting sekarang mari kita intropeksi diri kita masing-masing Sudah Berapa Ayat-ayat Al-Qur’an yg Sudah kita Amalkan dan Sudah berapa Sunnah Rosululloh saw yg kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari?dan tak kalah pentingnya sudahkah prilaku kita mencerminkan orang Islam yg KAFFAH(Al-Qur’an dn As-Sunnah)?

Komentar ditutup.