DOA BERSAMA SETELAH SHALAT

Tanya: Saya menyaksikan sebagian orang-orang yang shalat berjamaah seusai mereka shalat, mereka berdoa dengan bersama-sama, setiap kali mereka selesai shalat, apa hal ini dibolehkan? Berilah kami fatwa semoga Anda mendapat balasan di sisi-Nya.

Jawab: Berdoa setelah shalat, tidak mengapa. Akan tetapi setiap orang berdoa sendiri-sendiri. Berdoa untuk dirinya dan saudaranya sesama ummat Islam. Berdoa untuk kebaikan agama dan dunianya, sendiri-sendiri bukan bersama-sama.
Adapun berdoa bersama-sama setelah shalat, ini adalah bid’ah. Karena tidak ada keterangannya dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tidak dari shahabatnya dan tidak dari kurun-kurun yang utama bahwa dahulu mereka berdoa secara bersama-sama, dimana sang imam mengangkat kedua tangannya, kemudian para makmum mengangkat tangan-tangan mereka, sang imam berdoa dan para makmum juga berdoa bersama-sama dengan imam. Ini termasuk perkara bid’ah.
Adapun setiap orang berdoa tanpa mengeraskan suara atau membuat kebisingan hal ini tidaklah mengapa, apakah sesudah shalat wajib atau sunnah.

Sumber :
Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Shalih Al Fauzan (2/680)

http://www.ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=27

About these ads

5 thoughts on “DOA BERSAMA SETELAH SHALAT

  1. assalamualaikum wr wb
    saya ada membaca refrensi tentang dibolehkannya doa bersama setelah shalat,
    Yang perlu dipahami adalah pendapat ulama yang membolehkan atau menganjurkan. Mereka membagi persoalan tersebut menjadi dua bagian kemudian disimpulkan menjadi satu kesatuan. Yaitu:

    1. Hukum berdo’a setelah shalat

    Berdo’a setelah shalat adalah merupakan anjuran dari Rasulullah dan tidak ada ulama yang berbeda pandangan, karena dasarnya yang besumber dari hadis shahih sangat banyak diantaranya adalah

    سنن أبى داود – (4 / 318)

    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ وَقَالَ يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

    “ Sesungguhnya Rasulullah saw pernah memegang tanganku dan berkata :” Yaa Muadz , sesungguhnya Demi Allah aku mencintai Mu., Demi Allah aku mencintaiMu . aku berpesan kepadamu Yaa Muadz “ jangan sekali-kali engkau meninggalkan do’a setiap selesai shalat dengan do’a sebagai berikut: ‘ Yaa Allah tolonglah aku agar dapat selalu mengingatMu, dapat mensyukuri nikmatMu dan dapat beribadah kepadaMu dengan sebaik-baiknya”

    1. Hukum mengaminkan do’a orang lain

    Mengaminkan do’a adalah juga adalah sesuatu yang disyariatkan, dan juga tidak ada perbedaan pandangan diantara para ulama, sebagaimana sabda-sabda Rasulullah sebagai berikut:

    الأدب المفرد – (1 / 342)

    عن عائشة عن رسول الله صلى الله عليه و سلم : ما حسدكم اليهود على شيء ما حسدوكم على السلام والتأمين

    Dari Aisyah r.a. dari Rasulullah s.a.w, bersabda: “Tidak ada hal yang paling diirikan oleh orang Yahudi kepada dirimu kecuali ucapan salam dan perkataan amiin. (Hadis Riwayat Bukhari didalam Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Albani)

    جامع الأحاديث – (17 / 36)

    لا يجتمع ملأ فيدعو بعضهم ويؤمن بعضهم إلا أجابهم الله (الطبرانى ، والحاكم ، والبيهقى(

    Rasulullah bersabda: “Tidaklah sekelompok orang berdo’a kemudian saling mengaminkan, maka do’anya akan dikabulkan oleh Allah (Hadis Riwayat Thabarani, Al Hakim dan Baihaqi, dikutip dari Kitab Jami’ul Ahadis)

    Malaikat mengaminkan do’a yang orang mendo’akan saudara muslim lainnya, sebagaimana tersebut dalam hadis berikut:

    جامع الأحاديث – (3 / 144)

    إذا دعا المرءُ لأخيه بظهر الغيبِ قالت الملائكةُ آمين ولك مثلُه (البزار عن أنس) [المناوى]

    أخرجه البزار كما فى مجمع الزوائد (10/152) قال الهيثمى : رجاله ثقات

    Rasulullah bersabda: “apabila seseorang mendo’akan saudaranya yang tidak berada disisinya maka para malaikat mengucapkan amiin dan bagi yang berdo’a akan memperoleh yang sama (hadis riwayat al Bazar dalam Kitab Al Manawi dan Majmu’ zawaid, dikutip dari Kitab Jami’ul Ahadis, perawinya dapat dipercaya)

    Berdasarkan hadis-hadis diatas, sebagian ulama membolehkan, setelah shalat imam membaca do’a dan diaminkan oleh para makmun.

    bagaimana pendapat sdr, tlg penjelasannya ya ?

  2. Memang bener ya cuy…

    di akhir zaman ini akan banyak golongan Islam, dan setiap golongan akan menganggap kaumnya yang bener, begitu juga dengan yang lain…

    pertanyaan saya. apa gak ada yang bisa membuat persamaan dan menyatukan kaum Muslim ini?

    memang Perbedaan itu wajar, tapi apakah semua perbedaan itu bener, dan apakah kebenaran itu hanya bagi orang yang menggap dirinya melakukan semua yang dilakukan oleh Rasul. sedangkan yang tidak ada dizaman Dan dilakukan Rasul itu semunya salah.

    terima kasih cuy…

  3. Dear Bro…saya pernah ditanya oleh saudara Mualaf – kenapa yang ADZAN dan Imam ( yang makmumnya Pria ) itu tidak boleh Wanita….saya jawab itu sudah dari sananya begitu , aturan yang tak dapat di kutak-kutik…kemudian timbul pertanyaan berikut,,,kok….AMINA WADUD boleh jadi IMAM Shalat JUM’AT…padahal makmumnya…banyak ULAMA…walah..ini yang namanya bingung sambil nyengir kuda..wassalam.

    • saya tidak mengenal itu Amina Wadud,, tapi setelah saya cari refersnsi tentang si Amina Wadud itu ternyata seorang wanita,, ini telah menyalahi aturan agama islam tentunya,, kita tahu bahwa shalat jum’at itu wajib bagi laki-laki muslim dan tidak wajib bagi perempuan,
      rasulullah bersabda :
      “Jum’at itu merupakan hak yang diwajibkan kepada setiap Muslim dalam suatu jamaah, kecuali terhadap empat orang: budak yang dimiliki (tuannya), kaum wanita, anak-anak, atau orang yang sakit.” [HR. Abû Dâwud].
      khutbah dan imamah kaum wanita dalam konteks seperti ini belum ada sejarahnya, atau ahistoris, mengada-ada, alias bid’ah.

      Mengenai shalat, termasuk shalat Jum’at di gereja, para ulama’ berbeda pendapat. Intinya, ada yang menyatakan makruh dan tidak. Di kalangan ulama’ salaf ada Ibn ‘Abbas, al-Hasan al-Bashri, as-Sya’bi dan sejumlah nama lain. Mereka menyatakan makruh, dengan catatan jika di gereja tersebut ada gambar salib, patung dan lain-lain yang memang tidak boleh ada dalam tempat ibadah. Ada juga yang memakruhkan, karena dianggap bahwa gereja merupakan tempat syaitan.

      Dalam konteks hukum, kasus diperbolehkannya imamah wanita bagi kaum pria, sebagaimana yang dijadikan alasan kelompok tersebut adalah hadits Ummu Waraqah, yang menyatakan:

      Dan beliau (Nabi Saw) mengizinkannya untuk menjadi imam bagi penghuni rumahnya. [HR. Abû Dâwud]

      Yang dalam riwayat tersebut juga dinyatakan, bahwa di sana terdapat kaum pria, yang oleh ‘Abdurrahman, salah seorang perawi hadits dinyatakan sebagai syaikh ‘ajûz (lelaki tua renta), yang sekaligus menjadi mu’adzinnya.

      Hadits yang bersifat umum ini kemudian digunakan oleh kelompok ini, tanpa mengindahkan hadits-hadits lain. Padahal, ada hadits lain dengan redaksi yang sama, menyatakan:

      “Dan beliau (Nabi Saw) mengizinkannya untuk menjadi imam bagi kaum wanita penghuni rumahnya.” [HR. ad-Daruquthni].

      Disamping itu, juga ada hadits lain yang secara umum melarang wanita menjadi imam kaum pria:

      “Hendaknya tidak sekali-kali wanita menjadi imam bagi seorang lelaki.” [HR. Ibn Majah].

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s